SEMARANG, Beritajateng.id – Kondisi sedimentasi yang menumpuk tebal di sejumlah sungai besar di Kota Semarang dinilai dapat memicu bencana banjir.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana mencatat beberapa sungai sudah mengalami pendangkalan cukup parah. Diantaranya Banjir Kanal Barat (BKB), Banjir Kanal Timur (BKT), Sungai Beringin, Sungai Plumbon, serta sungai besar lainnya.
Kepala BBWS Pemali Juana, Sudarto mengungkapkan, sedimentasi di sungai-sungai tersebut sudah terlalu tinggi, bahkan membentuk daratan menyerupai pulau di tengah aliran sungai.
“Di beberapa titik, seperti di BKB dan BKT, sedimentasinya sudah cukup tinggi sehingga perlu dilakukan pengerukan,” ujarnya, Senin, 29 Desember 2025.
Salah satu sungai dengan kondisi sedimentasi yang cukup mengkhawatirkan yakni Sungai Plumbon. Sudarto mengatakan, sedimentasi itu bahkan menyebabkan penyempitan lebar sungai, sehingga beberapa waktu lalu sempat menyebabkan banjir.
Sudarto menilai sungai tersebut saat ini sudah tidak mampu menampung debit air yang masuk. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelebaran sungai disertai perencanaan dan penataan ulang.
“Perlu dilakukan desain ulang, termasuk menghitung ulang beban aliran air dengan skala banjir lima tahunan atau lima belas tahunan agar penanganannya tepat,” tuturnya.
Kondisi pendangkalan serupa juga terjadi di Sungai Beringin. Endapan lumpur tampak membuat aliran sungai menjadi dangkal.
Sudarto menegaskan, penanganan sungai idealnya dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya mengandalkan pengerukan sedimen semata.
Menurutnya, diperlukan langkah-langkah pendukung seperti penambahan daerah tangkapan air, konservasi wilayah hulu, serta upaya penghijauan.
“Jika hanya dilakukan pengerukan sementara daerah hulu tidak dibenahi, sedimentasi akan kembali terjadi,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya pengendalian banjir harus melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga peran aktif masyarakat.
Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah pembangunan sumur resapan di setiap rumah dengan kapasitas minimal satu meter kubik. Dengan penerapan masif, sumur resapan diyakini mampu mengurangi limpasan air permukaan.
“Selain menekan potensi banjir, sumur resapan juga bisa menjadi cadangan air saat musim kemarau,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















