SEMARANG, Beritajateng.id – Volume sampah selama Lebaran di Kota Semarang mengalami kenaikan signifikan. Pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, sampah yang masuk setiap hari tercatat lebih dari 1.000 ton per hari.
Kondisi ini diperparah dengan tidak optimalnya pengangkutan sampah selama dua hari pertama Lebaran. Selain itu, sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) juga dilaporkan penuh, bahkan sampah meluber hingga ke luar kontainer.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Glory Nasarani, menjelaskan bahwa keterbatasan pengangkutan menjadi salah satu faktor utama penumpukan sampah.
“Pengangkutan saat hari raya memang tidak berjalan penuh karena petugas juga menjalankan libur. Namun, upaya pengurangan sudah dilakukan sebelumnya,” ujarnya.
Lonjakan sampah menurutnya tidak lepas dari meningkatnya aktivitas rumah tangga masyarakat, terutama kegiatan memasak dan konsumsi selama Lebaran. Ia menuturkan jenis sampah yang mendominasi adalah sampah organik.
Data mencatat, pada 18 hingga 20 April, volume sampah yang masuk ke TPA Jatibarang berkisar antara 1.080 hingga 1.090 ton per hari, jauh di atas rata-rata normal.
Namun menurutnya persoalan tidak hanya terletak pada volume. Perilaku masyarakat dalam membuang sampah juga menjadi sorotan. Masih banyak warga yang tidak memasukkan sampah ke dalam kontainer TPS, sehingga mempercepat terjadinya overload.
“Banyak yang membuang di luar kontainer, ini yang membuat penanganan jadi lebih lama,” tambahnya.
Memasuki hari ketiga setelah Lebaran, pengangkutan mulai dinormalisasi secara bertahap. TPS yang sebelumnya penuh mulai dibersihkan, meski membutuhkan waktu untuk mengembalikan kondisi seperti semula.
Saat ini, volume sampah di TPA Jatibarang berangsur stabil di kisaran 900 hingga 1.000 ton per hari. Kondisi ini kembali menegaskan pentingnya pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Selain optimalisasi operasional, Glory menuturkan kebutuhan akan teknologi pengolahan sampah dinilai semakin mendesak.
“Kalau masih mengandalkan metode yang ada, usia TPA mungkin hanya bertahan sekitar lima tahun ke depan,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















