SEMARANG, Beritajateng.id – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Tengah yang berperan penting dalam menjaga keamanan hayati dan meningkatkan daya saing dan komoditas ekspor kini dipercayakan kepada Riswan Lasibo, S.STP, M.Si.
Sosok Riswan sendiri sudah tidak asing dalam berbagai instansi di pemerintahan. Pria yang lahir Kabupaten Sarigi, Sulawesi Tengah, pada 26 Agustus 1981, itu telah dipercaya untuk memimpin berbagai lembaga pemerintahan sejak kurang lebih tiga belas tahun lalu sebelum kini memimpin BKHIT Jateng.
Walaupun kiprah Riswan di BKHIT Jateng baru seumur jagung, namun dalam memimpin, ia selalu memegang teguh prinsip integritas sebagai pondasi utama dalam pelayanan publik. Walaupun suatu pemimpin mempunyai kemampuan teknis hingga pengetahuan dalam pemberian planinng, namun menurut Riswan semuanya akan sia-sia jika integritas hanya dipandang sebelah mata.
Dalam memimpin, Riswan juga ingin mengubah mindset kepercayaan publik yang saat ini masih menganggap pelayanan di Balai Karantina belum sepenuhnya optimal. Mulai dari biaya hingga rentan waktu dalam menyelesaikan masalah yang tidak pasti. Sehingga melalui kepemimpinan Riswan, BKHIT Jateng akan sepenuhnya memberikan kepastian waktu, biaya, prosedur, syarat, hingga kepastian kebenaran informasi.
Dalam membawa karantina menjadi balai kelas dunia, pemanfaatan teknologi dalam memudahkan pelayanan juga akan diterapkan salah satunya melalui teknologi robotik berbasis AI (Artificial Intelligence) untuk memudahkan atau mempersingkat proses pemeriksaan terhadap sebuah komoditi. Sehingga mampu menambal kekurangan sumber daya manusia (sdm) yang telah ada.
Di sisi lain, Riswan menegaskan bahwa keberadaan karantina memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, ancaman terhadap sektor pangan tidak hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga dari masuknya hama, penyakit hewan, maupun organisme pengganggu tumbuhan yang dapat merusak produksi pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan Indonesia.
Riswan juga memiliki harapan besar agar karantina mampu menjadi motor penggerak peningkatan ekspor Indonesia. Melalui sistem karantina yang kuat, ia ingin produk pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan Indonesia memiliki standar mutu internasional sehingga mampu bersaing di pasar global.
Menurutnya, cita-cita terbesar karantina bukan hanya menjaga Indonesia dari ancaman penyakit dan hama, tetapi juga mendorong para petani, peternak, dan pelaku usaha lokal naik kelas menjadi eksportir sehingga mampu meningkatkan surplus neraca perdagangan nasional.
Adapun perjalanan karir Plt Kepala BKHIT Jawa Tengah, Riswan Lasibo , S.STP., M.,Si, dimulai sejak 2003 sebagai ASN Pemerintah Kota Palu yang bertugas di kelurahan. Ia kemudian menjabat sebagai Lurah hingga diangkat menjadi Sekretaris Camat dan beralih menjadi auditor di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam rentang 2005-2010.
Riswan juga sempat pindah ke Kementerian Dalam Negeri dengan menjabat sebagai Kasubag Program dan Kasubag Tata Usaha di Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Ia kemudian menjadi pejabat Eselon III di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai Kepala Subdirektorat Pengendalian
Pada 2024, Riswan dipromosikan menjadi pejabat Eselon II sebagai Kepala Biro OSDM di KP2MI. Ia kemudian dirotasi menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Pemberdayaan KP2MI pada 2025.
Pada April 2026, Riswan bergabung dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) sebagai Inspektur. Ia juga sempat dipercaya sebagai Plt Kepala Biro Perencanaan Barantina sebelum akhirnya kini menjabat sebagai Plt Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Tengah.
Sementara untuk pendidikan, Riswan tercatat sebagai alumni Sarjana (S1) di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Ia kemudian melanjutkan Magister (S2) di Universitas Tadulako, Palu, dan saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor (S3) di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















