BATANG, Beritajateng.id – Sekitar 20 warga yang diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi makanan dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) mendapat penanganan di RSUD Batang.
Diketahui, program itu dijalankan oleh Posyandu di Desa Rowobelang, Kecamatan Batang. Puluhan warga tersebut mulai mengeluhkan gejala keracunan sejak Senin, 21 September 2026.
Kepala Instalasi RSUD Kalisari Batang Hifna Hendrianingsih mengatakan, jumlah pasien yang datang dengan keluhan serupa telah mencapai lebih dari 20 orang. Namun, tak semua pasien itu menjalani rawat inap, beberapa diantaranya diperbolehkan untuk rawat jalan.
“Pasien yang datang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Keluhan yang dialami relatif serupa, mulai dari mual, muntah, diare hingga demam. Sejumlah pasien juga ditemukan hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan angka infeksi cukup tinggi,” katanya saat ditemui di RSUD Batang, Kabupaten Batang, Selasa, 22 September 2026.
Hifna menjelaskan, penanganan pasien dilakukan berdasarkan tingkat kegawatan dan kondisi klinis masing-masing. Pasien yang mengalami kondisi lemas, demam tinggi, atau tidak mampu mengkonsumsi obat secara oral akibat mual dan muntah akan mendapatkan penanganan lebih lanjut melalui rawat inap.
“Kalau keadaan umum pasien lemas, kemudian menunjukkan tanda seperti demamnya tinggi sekali atau tidak bisa minum obat oral karena mual muntah, kita rawat inap-kan. Sementara pasien dengan keluhan yang relatif ringan dan kondisi umum baik dapat menjalani rawat jalan,” jelasnya.
Pasien dengan kondisi paling berat sejauh ini mengalami demam tinggi, lemas, dan dehidrasi. Namun, tingkat dehidrasi yang ditemukan masih dalam kategori sedang dan belum sampai dehidrasi berat.
“Yang paling parah mungkin dengan demam yang tinggi, sama lemas, dehidrasinya. Alhamdulillah dehidrasinya sedang, tidak sampai dehidrasi berat. Pasien yang menjalani rawat inap sudah mendapatkan perawatan di ruang perawatan RSUD Batang,” terangnya.
Berdasarkan penelusuran awal melalui anamnesis atau wawancara dengan pasien dan keluarga, pasien rawat inap lebih banyak berasal dari kelompok anak-anak dan perempuan dewasa.
“Sebagian makanan yang diduga dikonsumsi warga ternyata tidak langsung dimakan oleh seluruh anggota keluarga. Ada makanan yang baru dikonsumsi pada malam hari setelah dibagikan pada sore hari,” tegasnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti mual dan muntah terus-menerus setelah mengonsumsi makanan PMT untuk tidak memaksakan penanganan sendiri di rumah apabila kondisi semakin memburuk.
“Jika keluhan tidak tertangani atau pasien tidak mampu makan dan minum dengan baik, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Kalau sudah terlanjur makan, kemudian dirasa mual muntahnya berlanjut, sudah tidak tahan atau dirasa tidak bisa ditangani di rumah, tentu saja harus lari ke faskes terdekat,” ungkapnya.
Lansia dan Balita di Rowobelang Batang Diduga Keracunan PMT Posyandu
RSUD Batang memastikan penanganan terhadap pasien terus dilakukan dengan memperhatikan kondisi masing-masing, sembari menunggu perkembangan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialami warga.
Sumber: Humas Pemkab Batang
Editor: Tia















