BLORA, Beritajateng.id – Sebanyak 33 siswa di Blora dipanggil pihak kepolisian lantaran diduga terlibat dalam kasus perundungan. Puluhan siswa tersebut didampingi orang tua masing-masing untuk bertemu keluarga korban.
Kapolsek Blora, AKP Rustam mengatakan 33 siswa itu dipanggil ke Mapolsek untuk dimintai keterangan. Namun untuk keterlibatan, atau peran para siswa dalam dugaan perundungan ini masih dalam pendalaman.
“Keterkaitan berbagai peran masih kita dalami. Masih dimintai keterangan dari masing-masing siswa,” singkat AKP Rustam, Senin, 10 November 2025.
Dalam pemanggilan itu, AKP Rustam mengungkap sebagian orang tua tidak bisa hadir di Mapolsek Blora Kota.
“Yang datang sekitar 20 orang tua. Ini yang memanggil dari pihak sekolahan, kami hanya memfasilitasi dan memberikan arahan di kantor kepolisian,” katanya.
Terkait penanganan lanjutan kasus ini, ia berencana melakukan sanksi disiplin untuk pembinaan para siswa. Saat ini pihaknya sedang berkoordinasi dengan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Blora.
“Selanjutnya absensi rutin seminggu dua kali. Namun di unit PPA Polres Blora karena ini masih anak-anak, biar ditangani PPA polres Blora langsung,” tuturnya.
Sementara itu, Ainur Rofiq dari pihak sekolah mengungkapkan pertemuan antara keluarga terduga pelaku perundungan dan korban dilakukan dengan berkoordinasi bersama Dinsos P3A, Disdik dan Unit PPA Polres Blora.
“Kalau sudah seperti itu (insiden perundungan, red) kita lakukan penyelesaian dengan lintas sektoral. Jadi saya tidak bisa bergerak sendiri tanpa sepengetahuan dinas sosial, dinas pendidikan dan kepolisian,” katanya.
“Ini pembinaan anak-anak melibatkan Polsek,” sambung Rofik.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan telah melakukan mediasi kepada kedua keluarga. Hasilnya kedua belah pihak sepakat agar terduga pelaku dan provokator perundungan pindah sekolah.
“Ini (pemindahan sekolah) tidak ada paksaan. Ada 4 orang (siswa) yang pindah sekolah. Lalu orang tua dari pelaku juga sudah menyadari hal itu, menerima tanpa ada paksaan,” terangnya.
Pihaknya juga sudah melakukan rapat dengan para guru di sekolah untuk melakukan tindakan antisipasi, agar insiden perundungan tidak terulang kembali.
“Saya mohon maaf kepada masyarakat Blora, terjadi peristiwa seperti ini. Saya dengan teman-teman guru sangat prihatin, karena pendampingan kami terhadap anak tidak habis-habis. Tapi masih saja kecolongan,” tambahnya.
Sebelumnya, beredar video yang menampilkan aksi perundungan selama 25 detik di toilet salah satu sekolah di Blora. Dalam video itu, korban melindungi kepala dari pukulan pelaku. Sementara puluhan siswa yang menonton bersorak saat pukulan pelaku mengenai korban.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















