SEMARANG, Beritajateng.id – Curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Semarang memicu fenomena tanah bergerak di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Akibatnya, satu rumah warga roboh dan bergeser hingga sekitar dua meter dari posisi semula.
Salah satu warga setempat, Slamet Riyadi, mengatakan tanda-tanda pergeseran tanah sebenarnya sudah dirasakan sejak sekitar satu bulan lalu. Namun, hujan deras yang turun selama dua hari berturut-turut pada Rabu-Kamis, 4-5 Februari 2026 lalu memperparah kondisi tersebut hingga berdampak pada bangunan rumah warga.
“Sudah hampir sebulan ada tanda-tandanya, tapi tidak separah ini. Setelah hujan dua hari itu langsung parah. Seketika dua rumah terdampak,” kata Slamet, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menjelaskan, peristiwa itu bukan longsor biasa, melainkan tanah yang bergerak perlahan namun masif. Salah satu rumah bahkan sempat hampir “tenggelam” sebelum akhirnya roboh akibat tekanan pergerakan tanah.
Slamet juga mengungkap kontur tanah terasa bergoyang saat dipijak. Jalan kampung yang menanjak pun menjadi semakin berbahaya karena permukaannya ikut terdampak pergeseran.
Menurutnya, kondisi tanah di Kampung Sekip memang dikenal labil sejak lama. Meski begitu, ia mengaku belum pernah melihat kejadian separah ini selama tinggal di kawasan tersebut.
Akibat peristiwa itu, kata dia, warga mengalami kerugian material yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Selain bangunan rumah, kandang ternak milik warga juga ikut terdampak pergerakan tanah.
Sementara itu, Ketua RT 07 RW 01 Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Joko Sukaryono, menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena tanah bergerak, bukan tanah longsor.
“Ini tanah bergerak, istilahnya tanah ‘mletek’. Ada rumah yang sudah bergeser sekitar dua meter dari posisi awalnya, tapi belum roboh karena struktur bangunannya masih kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, fenomena serupa pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu di wilayah tersebut, namun baru kali ini menimbulkan dampak yang cukup signifikan.
“Dulu sudah pernah terjadi puluhan tahun lalu. Sekarang muncul lagi dan pergerakannya cepat, bukan per hari, tapi per menit,” katanya.
Pergerakan tanah menurutnya juga merusak akses jalan lingkungan. Jalan yang mengalami patahan terus bergeser dan menurun, sehingga menyulitkan mobilitas warga.
“Kalau motor tidak bisa lewat, warga parkir di bawah lalu jalan kaki. Sementara itu yang bisa kami lakukan,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah instansi terkait seperti BPBD Kota Semarang, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, dan Dinas ESDM Jawa Tengah telah meninjau lokasi kejadian. BPBD juga telah menyalurkan bantuan darurat berupa sembako dan peralatan evakuasi kepada warga terdampak.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















