GROBOGAN, Beritajateng.id – Kasus siswa putus sekolah di Kabupaten Grobogan menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2026 ini, jumlah anak tidak sekolah (ATS) di wilayah setempat masih mencapai 10.831 anak.
Jumlah tersebut menurun dibandingkan 2025 lalu yang mencapai 11.778 anak. Sementara pada 2024, jumlah ATS mencapai 13.663 anak. Penurunan ini dinilai tidak lepas dari berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Grobogan, Sutomo, mengatakan salah satu upaya menurunkan jumlah siswa putus sekolah ini yakni dengan mendorong berdirinya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
“Mendorong berdirinya PKBM untuk menjaring ATS,” ujar Sutomo.
Selain itu, Dinas Pendidikan Grobogan juga melakukan sosialisasi agar sekolah-sekolah tidak mudah mengeluarkan siswa yang menghadapi persoalan kedisiplinan atau faktor lainnya.
“Kami juga pernah bekerja sama dengan UNICEF dalam program penanganan anak putus sekolah di Grobogan. Kerja sama itu menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan pendidikan bagi anak-anak yang rentan tidak melanjutkan sekolah,” katanya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan adanya penurunan tingkat partisipasi sekolah pada kelompok usia 16–18 tahun dalam dua tahun terakhir.
Pada 2023, angka partisipasi sekolah untuk usia tersebut tercatat 56,22 persen, turun dibanding 2022 yang mencapai 57,92 persen.
Untuk kelompok usia lain, tingkat partisipasi masih berada pada level tinggi. Pada 2023, angka partisipasi usia 7–12 tahun mencapai 99,64 persen dan usia 13–15 tahun sebesar 94,29 persen. Sementara pada 2022, partisipasi usia 7–12 tahun berada di angka 99,90 persen dan usia 13–15 tahun sebesar 94,87 persen.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















