BLORA, Beritajateng.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora mencatat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menyebabkan satu dari 14 pasien meninggal dunia tahun ini, atau dalam kurun waktu Januari-Maret 2026.
Jumlah tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak lengah pada kondisi cuaca saat ini. Pasalnya, sepanjang 2025 lalu tercatat 133 kasus DBD dengan empat kematian di wilayah setempat.
Kepala Dinkes Blora, Edy Widayat, mengatakan kondisi cuaca yang masih sering hujan membuat potensi penyebaran DBD tetap tinggi. Genangan air yang muncul di lingkungan rumah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti, penyebab DBD.
“DBD masih harus diwaspadai. Apalagi saat musim hujan karena banyak tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk,” ujar Edy, Selasa, 31 Maret 2026.
Menurutnya, pencegahan paling efektif tetap melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.
Selain itu, masyarakat juga diminta rutin memantau keberadaan jentik nyamuk di sekitar rumah.
“Kalau lingkungan bersih dan tidak ada tempat air tergenang, jentik nyamuk tidak akan berkembang. Ini yang paling penting dilakukan masyarakat,” jelas Edy.
Pihaknya pun terus melakukan berbagai langkah pencegahan. Di antaranya melalui pemantauan jentik berkala, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, hingga fogging di wilayah yang ditemukan kasus DBD.
Meski begitu, Edy menegaskan fogging hanya menjadi langkah penanganan sementara. Upaya utama tetap bergantung pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Fogging itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Kalau jentiknya masih ada, maka nyamuk akan muncul lagi. Karena itu PSN harus rutin dilakukan,” tegasnya.
Edy juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi, mual, hingga muncul bintik merah pada kulit.
“Kalau demam lebih dari dua hari, jangan ditunda. Segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit supaya bisa ditangani lebih cepat,” tandasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















