PATİ, Beritajateng.id – 18 desa di wilayah Kabupaten Pati tercatat telah mengalami krisis air akibat musim kemarau panjang yang berlangsung hingga kini. Puluhan desa itu tersebar di 8 kecamatan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, desa-desa itu yakni Desa Cengkalsewu, Kecamatan Sukolilo; Desa Srikaton, Kecamatan Kayen; Desa Tambakromo dan Tambahagung, Kecamatan Tambakromo; Desa Sumbermulyo, Kecamatan Winong.
Kemudian Desa Kletek dan Tanjungsekar, Kecamatan Pucakwangi, Desa Ronggo dan Sidomukti, Kecamatan Jalan, Desa Sinoman, Kecamatan Pati; Desa Tondokerto, Tlogorejo, Tambahmulyo, Plosojenar, dan Karangrejo Lor, Kecamatan Jakenan.
Kepala BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang terdampak kekeringan hingga menyebabkan krisis air bersih itu.
“Sudah ada 24 tangki kapasitas 5000 liter kita distribusi mencakup desa-desa di wilayah Pucakwangi, Jakenan, Tambakromo, Gabus,” ungkapnya, baru-baru ini.
Martinus menambahkan, kondisi kekeringan masih berpotensi meluas apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Karena itu, masyarakat diminta melaporkan apabila wilayahnya mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Guna mengantisipasi krisis air bersih, distribusi air bersih akan terus dilakukan sebagai bentuk respons terhadap dampak kemarau panjang. Penyaluran diprioritaskan bagi wilayah yang kondisi sumber airnya sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Ketika September Oktober semakin banyak desa-desa yang dilanda kekeringan, termasuk persawahan. Kita rencanakan setiap hari 10-12 tangki akan kita operasikan membangun masyarakat yang membutuhkan air bersih,” imbuh dia.
Dengan adanya dropping air bersih tersebut, pemerintah berharap kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi meskipun Kabupaten Pati tengah menghadapi kemarau panjang.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















