BLORA, Beritajateng.id – Sebanyak 16 keluarga terdampak bencana tanah ambles di Dukuh Nglajo, Kelurahan/Kecamatan Cepu, mengungsi di Rusunawa Cepu. Hal ini lantaran rumah mereka dinilai tidak aman untuk ditinggali.
Ketua Pengelola Rusunawa Cepu, Sugiharto, mengatakan para korban bencana tanah ambles itu masuk di Rusunawa Cepu mulai 18 November 2025 sebanyak 10 keluarga. Kemudian disusul pada 4 Februari sebanyak empat keluarga.
“Total ada 14 dan masing-masing KK itu menempati satu ruangan. Semuanya ada di lantai lima dan satu keluarga ada di lantai empat,” ujar Sugiharto, Kamis, 12 Februari 2026.
Ia menyampaikan, para korban bencana itu hanya disediakan kamar dengan fasilitas dapur, ruang tamu, kamar mandi dan satu ruang tidur. Saat ini ketersediaan kamar di Rusunawa Cepu itu hanya tersisa empat kamar.
“Usulan relokasi warga ke Rusunawa Cepu itu dari kepolisian dan kelurahan. Kemudian dari pimpinan untuk permintaan tersebut disetujui dan segera kami bersihkan,” ujarnya.
Untuk biaya sewa, Sugiharto mengatakan tagihan listrik dan air gratis tidak dipungut biaya. Korban hanya menempati dan membersihkan ruangan selagi bencana masih terjadi.
“Tidak ada pungutan biaya sewa, listrik dan air. Semuanya ditanggung Pemerintah Blora khusus untuk korban bencana,” katanya.
Sementara itu, Risman, salah satu warga terdampak di RT 4 RW 8 Dukuh Nglajo, Kelurahan Cepu, mengaku sudah tinggal di Rusunawa sejak November lalu. Perabotan-perabotan miliknya seperti televisi, kulkas dan lemari tidak bisa dibawa lantaran ruang yang terbatas.
“Kalau di rusunawa ya kadang tidur malam, kalau pagi sama siang itu kembali ke rumah buat cari barang-barang yang bisa diselamatkan,” ucapnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















