GROBOGAN, Beritajateng.id – Memasuki puncak musim kemarau, dampak kekeringan di wilayah Kabupaten Grobogan semakin meluas. Berdasarkan data, sebanyak 108 desa mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut membuat warga harus bergantung pada bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi warga yang tidak mendapatkan bantuan, mereka terpaksa mencari sumber air ke luar desa.
Selain itu, beberapa warga memilih membeli air dari pedagang dengan harga sekitar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per tangki. Air tersebut umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama satu hingga dua minggu.
Hartoyo, warga Desa Rejosari, mengatakan kekeringan membuat warga harus mengandalkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Cari kemana-mana sampai sawah sebelah, itu pun jauh,” katanya.
Kepala pelaksana BPBD Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan kekeringan telah dimulai sejak Mei hingga akhir September ini. Pihaknya pun mencatat telah menyalurkan 617 tangki air bersih untuk membantu kebutuhan warga.
“Sejak Mei sampai menjelang akhir September ini, sudah didistribusikan 617 tangki air atau setara sekitar 3,1 juta liter air bersih ke wilayah terdampak,” katanya, Rabu, 23 September 2026.
Menurutnya, distribusi air dilakukan menggunakan armada internal BPBD serta dua unit mobil tangki yang beroperasi setiap hari. BPBD juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan lembaga sosial.
Bantuan tersebut antara lain datang dari PMII, Baznas, Podo Rukun, Jasa Tirta, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Wahyu mengatakan distribusi air bersih masih akan dilakukan selama masyarakat membutuhkan, mengingat kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
BPBD mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih dan memanfaatkan sumber air alternatif terdekat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca, kondisi kemarau diperkirakan mulai berakhir dan memasuki awal musim hujan pada November 2026.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Utia Lil















