GROBOGAN, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten Grobogan mengingatkan masyarakat mengenai potensi kebakaran yang semakin tinggi selama musim kemarau, terutama untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pantauan satelit terbaru, terdeteksi sebanyak 23 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Grobogan. Kondisi lahan yang mengering akibat kemarau panjang membuat potensi kebakaran semakin tinggi.
Kapolres Grobogan AKBP Endi Pratama mengatakan, cuaca panas yang ekstrem serta kelalaian manusia menjadi faktor utama yang memicu munculnya titik api di musim kemarau.
“Penyebabnya mungkin karena faktor panas, mungkin juga karena ada masyarakat yang tidak sengaja membuang puntung rokok dan lain sebagainya. Sebaiknya melihat situasi saat ini sedang musim kemarau, jadi mudah sekali lahan-lahan yang kering ini terbakar,” ujar Endi usai mengecek kesiapan armada penanganan bencana, Rabu, 5 Agustus 2026.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, sebanyak 450 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, serta Pemerintah Kabupaten Grobogan disiagakan. Sejumlah armada pendukung juga dipersiapkan, mulai dari mobil pemadam kebakaran, kendaraan operasional BPBD, hingga Armoured Water Cannon (AWC) milik Polri untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Grobogan Wahyu Tri Darmawanto menyebut 18 kecamatan di Grobogan masuk dalam kategori rawan kebakaran. Berdasarkan pemetaan risiko, Kabupaten Grobogan berada pada kategori tinggi untuk potensi karhutla.
“Kemarin itu ada kejadian, ada dua kejadian di Geyer dan di Jalan Gajah Mada, tapi masih kecil karena memang tidak begitu besar. Kita punya 18 kecamatan yang memang rawan untuk risiko kebakaran dan kami sampaikan bahwa Grobogan termasuk kategori tinggi untuk risiko kebakaran,” jelas Wahyu.
BPBD sendiri telah menyiagakan 27 personel yang bertugas selama 24 jam. Berbagai perlengkapan seperti pompa air, selang, alat pelindung diri (APD), hingga armada tangki air juga telah disiapkan untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran.
Di sisi lain, dampak kemarau panjang juga terus memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Hingga 5 Agustus 2026, BPBD bersama sejumlah instansi dan relawan telah mendistribusikan sebanyak 167 tangki air bersih ke 46 desa yang tersebar di 14 kecamatan.
“Saat ini sudah kita mulai dropping sejak bulan Juni sampai hari ini, 5 Agustus. Kita sudah dropping air sebanyak 167 tangki ke sekitar 46 desa di 14 kecamatan,” pungkas Wahyu.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah maupun lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghemat penggunaan air bersih untuk mengurangi risiko bencana yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















