KAB.SEMARANG, Beritajateng.id – Penemuan sesar di kawasan Danau Rawa Pening dinilai berpotensi menimbulkan bencana gempa bumi dengan kekuatan yang cukup besar.
Kepala Desa (Kades) Sepakung, Ahmad Nuri mengatakan, desanya bersama Desa Wirogomo di Kecamatan Banyubiru berpotensi paling terdampak karena berdekatan dengan Danau Rawa Pening.
Sebagai upaya mempersiapkan diri terhadap bencana tersebut, ia menuturkan masyarakat di dua desa tersebut diajarkan untuk tanggap terhadap bencana.
Sehingga Desa Sepakung dan Wirogomo, kata dia, saat ini menjadi Desa Tangguh Bencana (Destana).
“Kami sudah menyiapkan seluruh komponen penanggulangan kebencanaan secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur hingga warga kami semuanya sudah mendapat pelatihan kebencanaan, sehingga warga kami ini seluruhnya bisa dikatakan tanggap bencana,” katanya, Minggu, 5 Oktober 2025.
Ia mengatakan, Desa Sepakung menjadi salah satu dari 74 desa yang mendapat gelar Destana di wilayah Kabupaten Semarang.
“Kami harap jika terjadi bencana sewaktu-waktu kerusakan yang ditimbulkan tidaklah terlalu parah,” ungkapnya.
Selain gempa bumi, menurutnya kondisi alam di Desa Sepakung dan Desa Wirogomo juga berpotensi terhadap tanah longsor dan banjir bandang. Hal ini lantaran lokasi desa berada dekat dengan sesar Rawa Pening-Telomoyo.
Pihaknya bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Semarang meminta kepada warga setempat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan.
“Peningkatan kewaspadaan terhadap kebencanaan ini ialah melakukan mitigasi yang sudah diterapkan di Desa Sepakung ini. Mitigasi itu ialah menghentikan eksploitasi air tanah secara berlebihan,” terang dia.
Sebanyak 1.478 kepala keluarga di Desa Sepakung, kata dia, kini menggunakan jaringan air dari Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang lebih terkontrol dan ramah lingkungan.
“Beberapa dusun yang dulu langganan longsor seperti Dusun Bungkah dan Dusun Gowono, kini jauh lebih aman, ketika warganya sudah beralih ke PAMSIMAS untuk memenuhi kebutuhan air mereka sehari-harinya,” ungkapnya.
Selain itu, warga juga secara gotong royong membersihkan saluran-saluran air secara rutin untuk mencegah terjadinya penyumbatan air yang dapat memicu terjadinya tanah longsor saat hujan deras terjadi di wilayah tersebut.
Untuk mengantisipasi keadaan darurat, ia menuturkan Desa Sepakung telah memiliki jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta sarana komunikasi darurat.
“Hingga dukungan jaringan internet yang merata ini juga sudah kami lakukan dan kami siapkan sedini mungkin untuk memastikan tidak ada lagi “blank spot” di wilayah Desa Sepakung kami ini,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro mengatakan, jumlah Desa Tangguh Bencana tahun ini meningkat drastis menjadi 74 desa.
“Tahun ini kami berhasil menambah 74 Destana dari sebelumnya hanya 28 Destana, namun, nilai ketangguhan desa rata-rata masih ada di angka 30–50 saja, dan ini tentunya menjadi PR besar untuk kami semuanya,” jelas Alex.
Namun menurutnya peningkatan jumlah ini harus diiringi dengan kualitas pengelolaan risiko yang lebih baik. Sebab berdasarkan data terbaru dari BPBD Kabupaten Semarang menunjukkan wilayah Banyubiru, Jambu, dan Getasan masuk dalam zona merah rawan longsor, terutama di lereng Gunung Ungaran.
Sedangkan untuk potensi banjir, zona merah berada di selatan Danau Rawa Pening, meliputi Desa Sraten, Tuntang, dan Desa Kebondowo.
Beberapa wilayah lain yang juga berada dalam risiko tinggi yakni Kecamatan Bergas dan Bandungan, serta area Pojoksari dan Bejalen yang masuk zona orange dalam peta resiko banjir.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















