PATI, Beritajateng.id – Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) kembali menorehkan sejarah dengan mewisuda 244 mahasiswa dari tujuh program studi pada prosesi Wisuda Sarjana ke-13, yang digelar di Kampus IPMAFA, Pati.
Prosesi wisuda secara resmi ditetapkan dan dilepaskan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. A. Dimyati, M.Ag,. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa para lulusan tahun ini berasal dari tiga fakultas, yakni Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, serta Fakultas Dakwah dan Pengembangan Masyarakat.
Rinciannya meliputi Pendidikan Bahasa Arab sebanyak 35 wisudawan, PIAUD 59 wisudawan, PGMI 80 wisudawan, Perbankan Syariah 40 wisudawan, Zakat dan Wakaf (ZAWA) 6 wisudawan, Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)10 wisudawan, Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) 14 wisudawan
Wisuda Bukan Akhir, tapi Awal Pengabdian
Sementara itu, Rektor IPMAFA, KH. Abdul Ghofarrozin, M.Ed., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan langkah awal untuk menebar manfaat di tengah masyarakat.
“Wisuda ini bukan terminal terakhir. Ini hanya satu tangga dari perjalanan panjang. Tantangan ke depan tidak mudah, namun di situlah kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya di hadapan hadirin, termasuk para orang tua, dosen, dan tamu kehormatan.
Dalam kesempatan itu, KH. Ghofarrozin menyoroti pentingnya optimisme dan ketangguhan lulusan IPMAFA di tengah kondisi sosial-ekonomi yang penuh tantangan.
Ia juga menekankan bahwa lulusan dari Fakultas Tarbiyah, Syariah, dan Dakwah harus siap terjun ke dunia pendidikan, sosial, dan keumatan — bukan menunggu keadaan ideal, tapi justru hadir di saat dunia membutuhkan sentuhan nilai-nilai pesantren.
Orasi Ilmiah: Menempa Peradaban dari Ilmu dan Iman
Suasana wisuda semakin istimewa dengan kehadiran Prof. Dr. Helmy Purwanto, ST., MT., IPM, pakar metalurgi nasional, yang membawakan orasi ilmiah bertema “Menempa Peradaban: Integrasi Nilai Islam dan Budaya Nusantara dalam Ilmu Metalurgi Modern.”
Melalui paparannya, Prof. Helmy mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan konsep sains modern, terutama dalam bidang logam dan teknologi material.
“Ilmu pengetahuan tidak boleh lepas dari nilai-nilai agama. Dalam Al-Qur’an kita temukan inspirasi sains dan teknologi — seperti kisah Nabi Dawud yang mengolah besi, atau Zulkarnain yang membangun tembok raksasa. Semua itu menunjukkan integrasi antara iman dan ilmu,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa teknologi yang berlandaskan moral dan spiritual akan melahirkan kemaslahatan, bukan kehancuran.
“Kita menempa logam agar kuat, bukan untuk menyerang, tapi untuk melindungi. Begitu pula manusia yang berilmu — harus kokoh karena iman,” tambahnya.
Sebelum menutup orasi ilmiahnya, Prof. Helmy mengajak, seluruh pimpinan, dosen, dan wisudawan serta tamu undangan yang hadir untuk terus mendukung peran IPMAFA sebagai kampus berbasis pesantren yang menyiapkan generasi emas 2045 — generasi yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan umat. Hal ini sebagaimana bait pantun yang ia jadikan sebagai penutup orasi wisuda.
“Langit Pati cerah berseri. Kiai, dosen, dan santri hadir bersama. Wisuda bukan akhir berdiri. Tapi langkah awal menebar makna,” pungkasnya.
Sambutan Wisudawan: IPMAFA Bukan Sekadar Kampus, tapi Tempat Menempa Jiwa
Perwakilan wisudawan, Naswa Aisya Zahira (Prodi PGMI), menekankan pendidikan karakter yang didapat selama belajar di IPMAFA.
“Kami datang sebagai anak muda penuh tanda tanya, lalu dibentuk menjadi insan yang berani menjawab kehidupan dengan ilmu dan akhlakul karimah. Di IPMAFA kami belajar bahwa kecerdasan tanpa karakter hanya akan melahirkan kesombongan,” ujarnya..
Naswa juga menyinggung hasil penelitiannya tentang tingginya kasus perundungan di sekolah dasar, yang menjadi cermin pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai pesantren.
“IPMAFA hadir bukan hanya mencetak sarjana, tapi membentuk generasi bangsa yang berkarakter pesantren dan berakhlakul karimah melalui Nilai Dasar Shalih Akram (NDSA),” tegasnya.
NU: IPMAFA Harus Lahirkan Kader Ulama dan Penggerak Masyarakat
Momen wisudawan ini juga dihadiri Ketua PCNU Kabupaten Pati, KH. Yusuf Hasyim. Ia menekankan pentingnya peran lulusan IPMAFA sebagai kader Nahdlatul Ulama yang aktif di tengah masyarakat.
“Setelah menanggalkan toga, Anda tetap santri. Tugas santri ada tiga: himayatuddin (menjaga agama), himayatud daulah (menjaga negara), dan himayatul ummah (menyejahterakan umat),” pesannya.
Ia juga mengapresiasi kontribusi IPMAFA dalam penyusunan Peraturan Bupati tentang Pesantren di Kabupaten Pati, yang menjadi dasar legal pengembangan pendidikan pesantren di daerah tersebut.
Yayasan Nurussalam: Membangun Masyarakat Akademis yang Berakhlak
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Nurussalam Kajen, KH. Ahmad Zaky Fuad Abdillah, menegaskan komitmen yayasan untuk membangun masyarakat akademis yang menjunjung tinggi nilai iman dan ilmu.
“Kami bercita-cita agar IPMAFA melahirkan intelektual yang idealis, moderat, dan berakhlak. Manusia yang tidak tertipu oleh hiruk-pikuk dunia, tapi teguh dalam integritas dan profesionalitas,” tutur Kiai Zaky.
Tentang IPMAFA:
Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) merupakan perguruan tinggi berbasis pesantren di bawah naungan Yayasan Nurussalam Kajen yang berkomitmen mencetak lulusan berilmu, beradab, dan berjiwa pengabdian. Melalui konsep Nilai Dasar Shalih Akram (NDSA), IPMAFA menanamkan keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan amal sebagai bekal menghadapi tantangan global dengan karakter pesantren.
Sumber: Red. Beritajateng.id















