SEMARANG, Beritajateng.id – Para nelayan di Kampung Nelayan Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, berhenti sementara dari aktivitas melaut akibat musim baratan. Hal ini mengakibatkan hasil tangkapan nelayan menurun drastis.
“Biasanya saya menangkap ikan-ikan besar seperti kakap, manyung, tapi kadang juga rebon sama cumi, tapi kalau baratan ya nggak berani,” ujar salah satu nelayan setempat, Kusrianto.
Sepanjang 2025, Kusrianto mengaku penghasilannya menurun lantaran cuaca ekstrim. Ia menyebut cuaca yang tidak menentu ini menjadi kendala utama untuk pergi melaut.
Dengan perahu kecilnya, ia hanya sanggup menerjang ombak sekitar satu hingga dua meter.
“Musim baratan tahun lalu itu menurut saya yang paling panjang, dibanding sebelum-sebelumnya,” tuturnya.
Selama musim baratan, Kusrianto mengaku mengandalkan hasil dari tangkapan kerang hijau untuk memenuhi kebutuhannya.
Tak hanya cuaca, ia juga mengeluhkan adanya pembangunan tol tanggul laut Semarang-Demak. Meski berguna bagi keberlanjutan pesisir utara Jawa, ia mengatakan tanggul tersebut menyebabkan tangkapan ikan semakin sulit.
Hal ini lantaran para nelayan sering mengandalkan ikan-ikan yang banyak berhabitat pada muara-muara sungai di sekitar pesisir Semarang hingga Sayung, Kabupaten Demak.
Salah satu cara agar tetap mendapatkan penghasilan, Kusrianto membangun rumpon atau rumah ikan untuk menambah hasil tangkapan. Namun ia mengatakan lagi-lagi cuaca menjadi tantangan.
“Biaya pembuatanya mahal, sampai lima juta, tapi kalau ada ombak besar ya hilang, akhirnya ya hutang lagi,” katanya.
Mengawali 2026, ia berharap cuaca dapat bersahabat dengan para nelayan. Selain itu, ia berharap pemerintah bisa memberikan kebijakan agar bahan bakar solar menjadi lebih murah.
“Mungkin dibuatkan pom bensin dekat sini, biar mudah, kalau solar murah bisa mengurangi pengeluaran juga,” tuturnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















