BLORA, Beritajateng.id – Para pengusaha kerupuk di Kabupaten Blora menghadapi tekanan imbas kenaikan harga pada sejumlah bahan baku seperti minyak goreng, tepung pati, hingga plastik.
Kondisi tersebut terpaksa membuat para pengusaha kerupuk mengurangi margin keuntungan hingga menurunkan kapasitas produksi agar usaha tetap berjalan.
Pemilik usaha kerupuk di Kedungjenar, Kecamatan Kota, Novi, mengatakan pihaknya memutuskan tidak menaikan harga jual kerupuk. Hal itu agar tidak memberatkan para mitra yang menjadi ujung penjualan dalam produksinya.
“Kami tidak berani menaikkan harga. Jadi yang berkurang itu margin atau laba kami. Biasanya disiasati ukuran kerupuknya sedikit dikecilkan,” ujar Novi, Senin, 20 April 2026.
Ia mengungkap kekhawatirannya apabila harga kerupuk naik maka akan berdampak pada para pedagang mitra hingga konsumen yang konsisten membeli produknya.
“Kalau harga dinaikkan, kasihan bakul-nya juga. Mereka juga terdampak karena harga plastik mahal,” jelasnya.
Novi menilai kondisi pasar yang lesu turut mempengaruhi volume produksi. Jika sebelumnya ia mampu memproduksi kerupuk hampir setiap hari, kini dalam sepekan hanya berjalan tiga hingga empat kali produksi.
“Dulu bisa produksi penuh dari Senin sampai Sabtu. Sekarang paling hanya tiga sampai empat kali seminggu. Turunnya hampir separuh,” terangnya.
Menurutnya kenaikan harga minyak goreng menjadi faktor utama yang memberatkan proses produksi kerupuk. Ia menuturkan harga minyak goreng subsidi pemerintah naik dari sebelumnya Rp16.000 per liter menjadi Rp20.000.
“Sekarang sudah Rp20.600, dan tidak ada subsidi seperti dulu,” keluhnya.
Adapun harga tepung pati sebagai bahan utama kerupuk juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Novi mengungkap saat ini harganya menyentuh Rp3-4 juta dalam satu kali pembelian.
“Kalau ambil 4 ton, selisihnya bisa sampai Rp3 juta sampai Rp 4 juta sekali datang,” jelasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















