SEMARANG, Beritajateng.id – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menghadapi persoalan rumah yang cukup kompleks. Salah satunya laporan mengenai sekitar 296 ribu rumah yang masuk kategori tidak layak huni.
“Masih ada 296.200, artinya kami masih punya PR besar. Walaupun untuk pemenuhan (bantuan) rumah tidak layak huni Alhamdulillah kita yang terbanyak di Jawa Tengah,” ucap Wakil Gubernur Tak Yasin, baru-baru ini.
Selain itu, Wagub Jateng yang akrab disapa Gus Yasin itu mengungkap backlog atau kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan hunian di Jateng cukup tinggi.
Saat ini, kata dia, Jawa Tengah masih kekurangan sekitar 1 juta rumah sehingga pihaknya harus membangun kurang lebih 3 juta rumah lagi untuk memenuhi permintaan.
“Di Jawa Tengah ini masih tinggi (kebutuhan rumah), masih ada sekitar kurang lebih 1 juta backlog yang ada di Jawa Tengah,” kata Gus Yasin baru-baru ini.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pejabat publik seperti pemerintah pusat, Pemprov Jateng, DPRD hingga pemerintah kabupaten/kota diharapkan bisa mendorong pengurangan angka backlog.
“Di tahun 2026 sudah berjalan (pembangunan) ada 1.900 sekian (rumah) dan pada tahun 2025 ada sekitar 9.000 lebih. Artinya pemenuhan backlog atau pengurangan backlog kita bersama-sama jalankan,” ucapnya.
Menurut Gus Yasin, salah satu alasan yang mendorong meningkatnya kebutuhan rumah baru di berbagai daerah adalah tingginya pertumbuhan industri dan ekonomi di Jateng.
“Sehingga PR kita masih banyak apalagi ditambah pertumbuhan industri di Jawa Tengah ini luar biasa. BPS mengumumkan pertumbuhan perekonomian di Jawa Tengah Alhamdulillah masih di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.
Ia juga meminta pengembang membangun kawasan perumahan yang tanggap bencana dan ramah lingkungan. Pasalnya, Jateng dinilai memiliki tinggi terhadap potensi bencana seperti banjir, longsor hingga kebakaran.
“Pembangunan kawasan hunian tidak boleh hanya berfokus pada jumlah rumah, tetapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan mitigasi bencana,” imbuhnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















