BLORA, Beritajateng.id – Perajin tahu di Kabupaten Blora terpaksa menaikan harga jual produk sekitar 5 persen akibat kenaikan harga bahan baku, salah satunya kedelai. Hal ini dilakukan agar produksi tahu tetap bisa berjalan dan memenuhi permintaan konsumen.
“Sekitar 3 atau 2 bulan terakhir kedelai harganya naik,” ujar Tardi, perajin tahu asal Desa Tanjung, Kecamatan Tunjungan, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia mengatakan, kenaikan harga dipicu oleh melonjaknya kedelai impor dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram. Selain itu, kenaikkan harga plastik menurutnya juga turut mempengaruhi biaya produksi.
“Harga minyak goreng curah juga ikut merangkak naik,” sambungnya.
Menurutnya, kedelai impor masih menjadi pilihan utama karena menghasilkan kualitas tahu yang lebih baik dibanding kedelai lokal.
“Meski harga bahan baku terus naik, produksi tahu di tempat usaha tetap berjalan normal,” katanya.
Dalam sehari, Tardi menghabiskan sekitar 6 kuintal kedelai untuk memenuhi permintaan pasar. Hasil produksi tahu miliknya langsung diambil para pengecer untuk dipasarkan ke sejumlah wilayah.
“Kalau kedelai lokal hasil tahunya kurang bagus, jadi tetap pakai impor meski harganya naik,” ujarnya.
Selama kurang lebih 20 tahun menjalankan usaha tahu, Tardi kini dibantu 25 pekerja. Lima orang bekerja di bagian produksi, sementara 20 lainnya menjadi pengecer.
“Pengecer itu yang mendistribusikan tahu, ke tiga kecamatan. Yaitu, Kecamatan Kedungtuban, Kradenan, dan Randublatung,” katanya.
Kenaikan harga kedelai juga dirasakan para pengecer tahu. Mereka terpaksa ikut menaikkan harga jual agar tetap mendapatkan keuntungan.
Salah satu pengecer, Sarmini, mengatakan sebelumnya satu ikat tahu dijual Rp3 ribu. Namun kini naik menjadi Rp3.500 per ikat.
“Awalnya pembeli banyak yang mengeluh karena harga naik. Tapi lama-lama mereka paham karena bahan-bahan memang ikut naik,” kata Sarmini.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















