PEKALONGAN, Beritajateng.id – Museum Taman Candi Nusantara (TCN) mencatat lonjakan pengunjung hingga 20 persen dibandingkan hari biasa. Lonjakan ini terjadi seiring dengan libur sekolah yang telah dimulai.
Pemilik Museum TCN, Junardi Dwi Prasetyo, menyebut rata-rata kunjungan ke museum yang terletak di Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, itu sekitar 50 hingga 100 orang per hari saat momen biasa.
“Saat libur sekolah ada peningkatan sekitar 20 persen,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa, 23 Juni 2026.
Menurutnya, meningkatnya kunjungan tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat akan destinasi yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif. Museum ini menghadirkan berbagai koleksi, taman candi, serta diorama yang menggambarkan keragaman candi dan sejarah budaya Nusantara, sehingga dapat menjadi sarana pembelajaran di luar ruang kelas.
Selain itu, ia menuturkan fasilitas seperti ruang audio visual memberi konteks tambahan bagi pengunjung dalam memahami nilai sejarah. Sementara area terbuka seperti rooftop, ruang outdoor candi, dan gardu pandang di puncak kawasan menawarkan pengalaman melihat lanskap Linggoasri dari ketinggian.
“Kunjungan ke museum dapat menjadi alternatif kegiatan libur sekolah yang lebih terarah. Interaksi langsung dengan objek dan informasi sejarah mampu menumbuhkan minat belajar sekaligus memperluas wawasan tentang warisan budaya,” jelasnya.
Museum yang berlokasi di Jalan Lingkar Wisata ini, kata dia, dapat diakses melalui gerbang depan objek wisata Linggoasri maupun melalui jalur Gang Pura Kalingga Satya Dharma. TCN buka setiap hari pukul 09.00–17.00 WIB.
Harga tiket masuk tergolong terjangkau, yakni Rp10.000 untuk pelajar dan dewasa, sementara anak usia 0–3 tahun tidak dikenakan biaya. Untuk rombongan minimal 25 orang, tersedia tarif Rp7.500 per orang, sedangkan wisatawan mancanegara dikenakan Rp50.000.
Selain area utama taman candi, museum ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung. Diantaranya patirtan atau kolam air hangat, ruang pameran koleksi, panggung pertunjukan, gazebo Majapahit, kantin, mushola, ruang pertemuan, hingga homestay.
Pengunjung juga dapat memanfaatkan layanan tambahan seperti penyewaan busana, fotografer, serta penggunaan lokasi untuk kegiatan tertentu, termasuk acara pernikahan.
“Kami berharap tren peningkatan kunjungan selama libur sekolah dapat terus berlanjut, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis edukasi dan budaya di daerah,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















