BLORA, Beritajateng.id – Puluhan embung di wilayah Kabupaten Blora mulai terdampak kekeringan dan mengalami penyusutan debit air hingga pendangkalan sedimentasi. Kondisi yang dapat memicu krisis air ini terjadi akibat musim kemarau yang mulai melanda Blora.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora mencatat total embung di mencapai 78 titik yang tersebar di seluruh kabupaten. Namun separuh dari jumlah itu mulai mengalami kekeringan.
Diketahui, pengelolaan embung di Kabupaten Blora tersebut berada di bawah tiga kewenangan instansi. Diantaranya DPUPR Blora, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan BBWS Bengawan Solo.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan berdasarkan laporan tim di lapangan, sekitar 50 persen embung atau 39 embung di Blora saat ini mulai mengering.
“Dari sekitar 78 embung yang ada, ada sekitar 50 persennya sudah banyak yang kritis,” ujar Surat, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menyebut puncak musim kemarau masih akan berlangsung selama bulan Agustus 2026. Hal itu berdasarkan perkiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Meski begitu, Surat menilai masih ada sejumlah embung yang menyimpan cadangan air. Air yang tersisa itu menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan konstruksi embung, sehingga penggunaannya tidak boleh dihabiskan.
“Embung-embung yang masih ada airnya, kami prioritaskan agar tidak dihabiskan untuk penggunaan air, karena harus menjaga stabilitas konstruksi sumber daya air yang ada,” katanya.
Sementara embung yang telah mengering, kata dia, harus menunggu datangnya musim hujan agar kembali terisi. Selain menghadapi penyusutan debit air, embung juga mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa aliran air saat musim hujan.
Ia menjelaskan sedimentasi merupakan kondisi wajar terjadi setiap tahun. Untuk mengatasinya, pihaknya terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
“Kalau pendangkalan pasti ada karena sedimentasi yang terbawa saat musim penghujan. Setiap tahun kami berupaya bekerja sama dengan BBWS Pemali Juana maupun Bengawan Solo, agar ketika embung kering bisa dilakukan pengurangan sedimentasi,” jelasnya.
Selama musim kemarau, pihaknya memfokuskan kegiatan pada pemeliharaan embung, termasuk normalisasi sedimen agar kapasitas tampung air dapat kembali optimal saat musim hujan tiba.
“Kami fokus melakukan pemeliharaan embung. Kalau ada sedimentasi kami normalkan kembali, sehingga ketika musim hujan datang tampungan air bisa lebih optimal,” paparnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















