GROBOGAN, Beritajateng.id – Sejumlah harga bahan baku produksi bakso dan mie ayam di wilayah Kabupaten Grobogan mengalami kenaikan. Hal ini diduga akibat dari program makan bergizi gratis (MBG).
Ketua Asosiasi Mie dan Bakso (Apmiso) Kabupaten Grobogan, Adi Sucipto, mengatakan kenaikan harga bahan baku dirasakan terutama pada daging sapi, daging ayam, cabai, sawi, serta berbagai kebutuhan lain untuk produksi mie ayam dan bakso.
Menurutnya kenaikan harga sejumlah bahan baku ada di kisaran 5 hingga 10 persen. Ia menuturkan ketika MBG libur maka harga sejumlah bahan baku turun, sebaliknya ketika MBG beroperasi maka harga bahan baku akan naik.
“Sebelum ada MBG harga daging sapi Rp125 ribu per kilo, namun setelah ada MBG harga daging sapi jadi Rp145 ribu per kilo. Setelah MBG libur ada penurunan dari daging ayam, cabai dan bahan pokok lainnya, setelah dibuka lagi ini ikut naik lagi,” katanya.
Kenaikan harga tersebut, kata dia, membuat biaya operasional pelaku usaha mie ayam dan bakso semakin tinggi. Sebab menurutnya hampir seluruh komponen produksi mengalami kenaikan, mulai dari daging sapi, ayam, cabai, sayuran hingga tepung.
“Jelas biaya operasional kita bertambah. Pendapatan kita ajeg (tetap), biaya pengeluarannya bertambah. Nah ini yang membuat bingung,” ungkapnya.
Menghadapi kondisi tersebut, ia mengungkap sejumlah pengusaha bakso dan mie ayam mulai memikirkan berbagai cara untuk menekan biaya produksi. Salah satunya dengan mengurangi jumlah atau ukuran bakso yang diberikan kepada konsumen.
Selain itu, menurutnya ada kemungkinan sebagian pelaku usaha mencampurkan daging sapi dengan daging ayam sebagai upaya menekan biaya produksi. Yanto mengatakan praktik tersebut bahkan sudah dilakukan oleh sebagian kecil pelaku usaha.
“Untuk menyiasatinya ada. Satu, kita akan melakukan pengurangan jumlah bakso atau pengurangan ukuran bakso. Yang kedua, untuk mengurangi biaya operasional nanti ada kemungkinan teman-teman mencampur daging sapi dengan daging ayam. Itu solusinya, sebagian kecil sudah ada yang mempraktikkan,” jelasnya.
Namun, langkah tersebut dinilai memiliki konsekuensi terhadap kualitas produk, terutama rasa. Jika harga jual harus dinaikkan untuk menutup biaya produksi, Yanto khawatir daya beli masyarakat justru menurun.
“Jelas mempengaruhi rasa. Jadi nanti kalau harga kita semakin tinggi, tingkat konsumsi masyarakat justru akan menurun. Ini yang perlu kita waspadai,” katanya.
Menurutnya, penurunan tingkat konsumsi akan menjadi persoalan serius bagi pelaku usaha.
“Kalau tingkat konsumsi masyarakat menurun, kita tidak bisa bergerak, jadi tidak bisa ke pasar lagi. Sebab biaya operasional tinggi, namun pendapatan berkurang,” ujarnya.
Meski demikian, Yanto menyebut hingga saat ini tingkat konsumsi mie ayam dan bakso di Grobogan masih relatif stabil dan belum mengalami penurunan secara signifikan.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi sasaran penerima program MBG agar lebih diprioritaskan bagi masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, program tersebut sebaiknya difokuskan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Harapannya pemerintah kalau bisa, MBG itu untuk masyarakat yang kurang mampu, jadi tidak semua masyarakat. Pelajar yang anaknya orang kaya menikmati program itu, jadi MBG itu untuk anak-anak dari orang yang tidak mampu,” pungkasnya.
Sementara itu, Sujoko owner Bakso Terbit Mantep menuturkan masih mempertahankan kualitas dan harga bakso seperti biasanya meski keuntungan semakin menipis akibat harga bahan baku yang naik.
“Tapi kita tetap bertahan tidak akan mengubah menu makanan yang ada, rasa tidak dikurangi harga tidak di naikan dan karyawan-karyawan tidak ada yang saya keluarkan,” ujarnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















