KUDUS, Beritajateng.id – Pengamat Lingkungan sekaligus Akademisi asal Kabupaten Kudus, Hendi Hendro, menyoroti kondisi di wilayah Alun-Alun Simpang Tujuh yang dinilai mulai tidak tertata dan semrawut.
Ia juga mengungkap banyak warga yang kurang setuju jika Alun-Alun Simpang Tujuh digunakan untuk berbagai kegiatan. Menurutnya dalam beberapa waktu terakhir ruang publik itu memang menjadi lokasi banyak event dan kegiatan komersial.
“Penggunaan alun-alun ada aturan hukumnya, dulu ada Peraturan Daerah nya. Jadi kegiatan yang boleh diadakan hanya untuk Upacara Kenegaraan HUT RI atau Sholat Ied, mengingat Alun-alun Simpang Tujuh adalah satu kesatuan dengan pendopo yg merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kudus yang perlu dijaga kewibawaannya,” katanya.
Hendi menilai bahwa kawasan tersebut kini tidak memiliki kewibawaan sebagai Pusat Pemerintahan. Untuk itu ia mendorong perlunya penataan kota yang lebih humanis, religius, asri, modern dan berkelanjutan.
“Jadi perlu konsep pembangunan perkotaan yang holistik menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan kesejahteraan, pelestarian alam dan nilai spiritual masyarakat,” paparnya.
Menurutnya kegiatan hiburan atau agenda sejenisnya tidak harus diadakan di Alun-alun Simpang Tujuh. Event-event itu bisa dialihkan ke titik-titik lokasi lain agar dapat menghidupkan ekonomi masyarakat di berbagai wilayah lainnya.
“Kalau dialihkan justru bisa jadi potensi untuk dikembangkan menjadi pusat keramaian baru, seperti Balai Jagong, Kudus City Walk Mall Kawasan Terminal, Museum Kretek dan Kawasan Terminal Wisata. Atau bisa juga dibangun pusat keramaian dan ruang publik di tiap kecamatan yang aksesibilitasnya mudah dijangkau masyarakat,” katanya.
Menanggapi keluhan itu, Bupati Sam’ani Intakoris mengatakan tingginya permintaan penggunaan alun-alun membuat pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi agar pemanfaatannya lebih tertata.
“Pemanfaatan alun-alun akan kita evaluasi. Memang permintaan untuk menggunakan Alun-alun banyak sekali,” kata Sam’ani, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurutnya, pemanfaatan Alun-Alun Simpang Lima selama ini salah satunya memang diarahkan untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Berbagai kegiatan diharapkan mampu menciptakan keramaian sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi di daerah.
“Tujuan kami adalah untuk meningkatkan UMKM kita dan keramaian. Dengan adanya keramaian akan membuat sirkulasi perputaran uang semakin baik,” ujarnya.
Ia mengakui banyaknya event di Alun-Alun perlu diimbangi dengan pengaturan agar tidak menimbulkan persoalan baru. Sehingga pihaknya pun akan melakukan evaluasi terkait penggunaan alun-alun tersebut.
“Kita usahakan nanti yang berbayar, kegiatan-kegiatan UMKM yang berbayar kita arahkan ke Balai Jagong. Kecuali ada kegiatan-kegiatan nasional, kegiatan kabupaten, ya kita gunakan alun-alun,” jelasnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus/Lingkar Network
Editor: Utia Lil















