BATANG, Beritajateng.id – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropilis Kabupaten Batang bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi untuk mensinergikan kesiapan lulusan SMK dengan kebutuhan industri.
Kerjasama ini dilakukan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam kegiatan Diseminasi Program Ngopeni SMK di KEK Batang pada Kamis, 21 Agustus 2026. Kerja sama ini menjadi langkah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko KEK Industropolis Batang, Angga Arie Saputra, menilai kolaborasi dengan dunia pendidikan terutama vokasi menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“KEK Industropolis Batang tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, listrik, air, dan teknologi, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengoperasikan, memelihara, dan mengembangkan seluruh ekosistem industri di dalamnya. Untuk itu, kami melihat SMK memiliki posisi penting sebagai salah satu sumber talenta bagi kawasan,” jelasnya.
Melalui Program Ngopeni SMK, ia mengungkap pihaknya ingin memperkuat jembatan antara dunia pendidikan dan industri agar peserta didik dapat lebih mengenal kebutuhan dunia kerja sejak di bangku sekolah.
Menurutnya kolaborasi ini akan mendorong keterlibatan yang lebih konkret melalui pembekalan, pelatihan, serta pengembangan kompetensi sesuai kebutuhan industri.
“Selain itu, peserta didik tidak hanya memiliki kompetensi sesuai bidang pendidikannya, tetapi juga memahami disiplin, tanggung jawab, budaya kerja, serta memiliki kemauan untuk terus belajar dan berkembang.” ujarnya.
Kepala Disdik Provinsi Jateng, Sadimin, menekankan pentingnya penyiapan lulusan SMK agar mampu memasuki dunia kerja secara langsung. Upaya itu dilakukan melalui penguatan karakter sekaligus peningkatan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dan perkembangan industri.
“Kerja sama ini mencakup integritas, disiplin, tanggung jawab, etos kerja, komunikasi, kerjasama, ketahanan kerja, kepatuhan terhadap prosedur, kepedulian terhadap keselamatan, serta kemampuan beradaptasi dan terus belajar,” ungkapnya.
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh yang menilai kompetensi peserta didik perlu mengikuti perkembangan dunia industri dan tidak bersifat monoton.
Selain kompetensi, menurut Saleh peserta didik juga perlu dibekali karakter serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi berbagai perubahan dan perkembangan zaman.
Ruang lingkup kerja sama meliputi penyelarasan materi pembekalan dan pelatihan kesiapan kerja, fasilitasi kunjungan pabrik dan industri, serta keterlibatan praktisi industri sebagai narasumber, instruktur, mentor, penguji, dan pemberi umpan balik.
“Para pihak juga dapat memfasilitasi pelatihan, pembekalan, asesmen, sertifikasi kompetensi, magang, praktek kerja lapangan, serta kegiatan lain sesuai dengan program dan ketentuan yang berlaku,” katanya.
Sejalan dengan upaya mendekatkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan menekankan pentingnya keterhubungan pendidikan kejuruan dengan perkembangan dan kebutuhan dunia usaha maupun dunia industri.
“Kurikulum SMK dinilai perlu adaptif, dinamis, dan terintegrasi dengan standar kompetensi yang dibutuhkan. Sinergi penyiapan calon tenaga kerja juga menjadi bagian penting dalam kerja sama ini,” ujar Bupati Faiz.
Diketahui, melalui koordinasi antara SMK dan Bursa Kerja Khusus (BKK), peserta didik dan lulusan dapat memperoleh informasi lowongan, bimbingan karier, pemadanan kompetensi, proses seleksi, hingga fasilitasi penempatan kerja.
Proses rekrutmen yang difasilitasi dalam kerja sama ini diarahkan berlangsung secara objektif, transparan, inklusif, non-diskriminatif, dan tanpa pungutan kepada pelamar.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















