DEMAK, Beritajateng.id – Menjelang tradisi penjamasan, Kasepuhan Kadilangu menerima penyerahan Abon-abon atau Ubo Rampe untuk penjamasan pusaka peninggalan Kanjeng Sunan Kalijaga dari Kasunanan Surakarta.
Tradisi jamasan pusaka sendiri dijadwalkan dilaksanakan pada 10 Dzulhijah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Tradisi tahunan tersebut menjadi salah satu rangkaian puncak Grebeg Besar Demak yang rutin digelar setiap tahun di Kabupaten Demak.
Prosesi serah terima Abon-abon dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat berlangsung khidmat di Pendopo Notobratan Kadilangu, Selasa, 26 Mei 2026.
Bupati Eisti’anah menyampaikan apresiasi kepada keluarga Kasepuhan Kadilangu yang telah melibatkan Pemerintah Kabupaten Demak dalam pelaksanaan tradisi budaya tersebut. Menurutnya, keberlangsungan tradisi menjadi bukti kuat komitmen masyarakat dalam menjaga peninggalan sejarah dan nilai budaya Islam di Kota Wali.
“Alhamdulillah serta terima kasih kami haturkan kepada keluarga Kasepuhan Kadilangu yang telah melibatkan kami dari jajaran Pemkab Demak dalam acara silaturahmi sekaligus penyerahan abon-abon ubarampe tradisi jamasan pusaka Sunan Kalijaga,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya nguri-uri budaya warisan leluhur merupakan bagian dari penghormatan kepada para pendahulu. Karena itu, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut perlu terus dijaga dan dilestarikan di tengah perkembangan zaman.
“Termasuk di antara tindakan menghormati orang tua adalah melestarikan tradisi budaya yang ditinggalkan,” tambahnya.
Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, Eisti’anah berharap tradisi Grebeg Besar dan jamasan pusaka mampu mendukung pengembangan sektor pariwisata religi di Kabupaten Demak. Kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Demak dinilai menjadi potensi besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Dalam prosesi tersebut, penyerahan minyak jamas dari Pakubuwono XIV, KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya, serta KGPHA Dipokusumo diterima langsung oleh sesepuh ahli waris Sunan Kalijaga, H.R. Muhammad Cahyo Iman Santoso.
KGPHA Dipokusumo menuturkan, tradisi Abon-abon dan Penjamasan Pusaka merupakan warisan budaya berusia lebih dari 500 tahun yang harus terus dijaga bersama sebagai bagian dari jati diri bangsa dan kebudayaan nasional.
Prosesi Abon-abon tahun ini juga berlangsung semakin meriah dengan keterlibatan Prajurit Bintoro dan Prajurit Patiunus yang bersinergi bersama Prajurit Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Sentono Abdi Dalem Ahli Waris Sunan Kalijaga dalam mengawal iring-iringan rombongan Pakubuwono XIV dan KGPAA Hamangkunegoro menuju Pendopo Notobratan Kadilangu.
Penampilan para prajurit dengan balutan busana adat khas masing-masing menjadi daya tarik tersendiri bagi ribuan warga yang memadati sepanjang jalur prosesi. Suasana berlangsung meriah namun tetap khidmat, mempertegas Grebeg Besar Demak sebagai salah satu tradisi adat bersejarah di Jawa Tengah.
Koordinator Prajurit, Sunu, mengatakan keterlibatan para prajurit dalam prosesi adat tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan sejarah leluhur yang terus dijaga lintas generasi.
“Momentum Abon-abon bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga simbol persatuan, kekompakan, dan penghormatan kepada para leluhur. Kami bangga bisa bersinergi bersama prajurit Kasunanan Surakarta dan Sentono Kadilangu untuk menjaga kelancaran serta kekhidmatan prosesi ini,” katanya.
Sementara itu, Endah Cahya Rini menambahkan, bersatunya prajurit dari Demak dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat menjadi bukti bahwa nilai persatuan, penghormatan, dan kebersamaan warisan leluhur masih terjaga hingga kini.
“Melalui event Grebeg Besar inilah kita tunjukkan kepada wisatawan bahwa Demak bukan hanya kota bersejarah, tetapi juga kota yang kaya akan tradisi hidup yang terus dijaga dengan sepenuh hati oleh masyarakatnya,” ujarnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















