BLORA, Beritajateng.id – Fenomena tanah ambles diduga dari aliran Sungai Lusi di Kabupaten Blora, kembali memunculkan rekahan baru. Rekahan tersebut semakin membuat warga setempat khawatir karena bisa merusak rumah mereka.
Tanah ambles tersebut terjadi di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo. Insiden itu diperkirakan sudah berlangsung selama 5 bulan terakhir.
Kapolsek Banjarejo, AKP Gembong, membenarkan adanya rekahan baru yang muncul sekitar 1 meter dari rekahan yang lama. Tak hanya itu, tingkat penurunan tanah juga bertambah dibeberapa titik dengan kedalaman 40-50 sentimeter.
“Bahkan di beberapa lokasi, penurunan terjadi di area yang sebelumnya tidak terdampak,” ujar Gembong, Jumat, 2 Januari 2026.
Gembong juga menyebutkan dampak pergerakan tanah kini meluas hingga ke permukiman warga. Sebanyak tiga rumah dan kandang ternak dilaporkan terdampak.
Ia mengatakan, tiga rumah yang hingga saat ini masih dihuni mengalami kerusakan yang semakin parah. Sebab, rekahan tanah yang sebelumnya hanya 10-15 sentimeter saat ini mencapai kedalaman hingga 70 sentimeter.
“Panjang area terdampak diperkirakan sama, mencapai sekitar 200 meter. Namun, pergerakan tanah tidak lagi memanjang, melainkan meluas ke sisi-sisi lain, termasuk ke arah permukiman warga,” ujarnya.
Salah satu warga terdampak, Peniwati mengatakan selama sekitar satu bulan terakhir dirinya harus mengurug rekahan tanah di bagian belakang dapur rumahnya, menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material.
“Area yang diurug memiliki panjang sekitar tujuh meter dan lebar lima meter,” ungkapnya.
Sementara itu warga lainnya, yaitu Nur Hidayah menyebut tanah di sekitar rumahnya ambles dengan panjang sekitar enam meter dan lebar empat meter.
“Kemarin sempat mau dibuat teras, tapi malah muncul rekahan baru. Jadi hanya pengecoran sedikit, dan tidak dilanjutkan,” katanya.
Hal serupa dialami Sayid, yang mencatat area terdampak di lahannya mencapai panjang 12 meter dan lebar sekitar sembilan meter. Sementara kedalaman yang terdampak mencapai sekitar 1 meter untuk bagian rumah belakang.
“Tembok saya sudah jebol. Rekahan semakin dalam dirumah bagian belakang,” tuturnya.
Sayid juga menyebutkan peristiwa serupa pernah terjadi pada 1998 dan 2001 silam. Pada saat 1998, tanah ambles masih di dekat sungai dengan kedalaman sekitar dua meter.
Saat ini, kondisi tanah menurutnya tidak bergerak ke arah sungai, melainkan ambles secara vertikal ke bawah. Lantai rumah warga juga dilaporkan mengalami retak-retak.
Menurutnya, penurunan tanah terjadi hampir setiap hari dengan kisaran dua hingga tiga sentimeter. Saat hujan deras, penurunan tanah dapat mencapai sekitar lima sentimeter.
“Semoga, pemerintah desa bersama instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan serta kajian teknis untuk memastikan penyebab pergerakan tanah dan menentukan langkah penanganan yang tepat,” kata Sayid.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana telah menerima informasi kekhawatiran warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, terkait pergerakan tanah yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora, Surat, mengatakan inspeksi lapangan direncanakan akan dilakukan pekan depan bersama BBWS Pemali Juana.
“Minggu depan rencananya akan dilakukan inspeksi dari BBWS Pemali Juana,” katanya.
“Hingga saat ini pihak desa belum menyampaikan laporan resmi terkait kejadian tersebut kepada Dinas PUPR Kabupaten Blora,” imbuhnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















