JEPARA, Beritajateng.id – Tiga seniman ukir asal Kabupaten Jepara akan bertolak ke Eropa untuk menangani restorasi Masjid Istiklal yang berada di kawasan Otoka di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina.
Keahlian pengukir Jepara kembali mendapat kepercayaan untuk menangani restorasi bangunan di luar negeri. Kali ini, tiga pengukir asal Jepara akan bertolak ke Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, untuk memulihkan ornamen Masjid Istiklal di kawasan Otoka.
Rencananya enam pilar berukir dari bangunan masjid yang mengalami kerusakan itu akan diganti seluruhnya. Penangannya diserahkan ke tim pengukir dari Jepara yang juga mendapat amanah memperbaiki tangga dan sejumlah hiasan dinding masjid.
Sutrisno, maestro ukir Jepara yang menjadi bagian dari tim, mengatakan bahwa penggantian enam pilar dilakukan karena kerusakannya tidak memungkinkan ditangani dengan metode tambal.
“Kalau pilar itu diganti total. Karena kalau ditambal, nanti karakter ukirannya berbeda,” kata Sutrisno, Selasa, 29 September 2026.
Menurutnya, menjaga karakter ukiran menjadi pertimbangan utama dalam proses restorasi. Bagian yang rusak tidak sekadar diperbaiki, tetapi dibuat kembali agar bentuk dan karakter ukirannya tetap menyatu dengan ornamen yang telah ada.
“Selain enam pilar, ada juga tiga hiasan dinding yang masuk dalam pekerjaan. Satu hiasan telah selesai dibuat di Jepara dan dikirim ke Sarajevo. Sementara dua lainnya akan diperbaiki di lokasi,” imbuh Sutrisno.
Sutrisno mengungkapkan bahan untuk pembuatan pilar pengganti akan menggunakan kayu jati. Tim juga membawa berbagai peralatan kerja dari Jepara yang diperlukan selama proses pengerjaan.
“Berangkat pada 13 Oktober 2026. Pekerjaan di Sarajevo ditargetkan rampung dalam lima hari. Ada waktu tambahan apabila pekerjaan belum selesai sesuai target,” katanya.
Ia menegaskan tim siap bekerja lembur untuk menyelesaikan target pekerjaan tersebut. Menurutnya hampir tidak ada potensi kendala yang dikhawatirkan oleh timnya. Namun ia mengungkap suhu di Eropa bagian Tenggara itu saat ini sangat rendah.
“Kami juga siap bekerja lembur untuk memastikan seluruh bagian yang menjadi tanggung jawabnya dapat diselesaikan. Kalau teknis tidak ada masalah. Kemarin waktu ke sana sampai minus enam derajat, salju,” terangnya.
Sutrisno menambahkan pemeriksaan barang bawaan di bandara menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, pihaknya menyiapkan dokumen pendukung dan berharap proses administrasi melalui jalur diplomatik dapat membantu kelancaran keberangkatan.
“Tantangan utamanya bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi memastikan ukiran baru tidak kehilangan karakter dari ornamen yang sudah ada. Kita menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” tandasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Utia Lil















