KAB.SEMARANG, Beritajateng.id – Sejumlah sekolah di wilayah pinggiran Kabupaten Semarang mengalami krisis siswa akibat ketatnya persaingan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di pusat kota.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikbudpora) Semarang, M. Taufiqurrahman, menuturkan kondisi ini juga terjadi di wilayah pinggiran lainnya seperti Salatiga.
Menurutnya kuota SPMB di sekolah-sekolah pinggiran saat ini belum memenuhi kuota akibat minat di pusat kota sangat tinggi.
“Ada banyak penyebabnya, diantaranya yang pertama kuota kita itu memang ada yang belum terpenuhi. Dan kondisi itu hampir menyeluruh ya, baik di Kabupaten Semarang, bahkan di Kota Salatiga pun hampir sama kondisinya,” ungkapnya, Selasa, 23 Juni 2026.
Untuk mengatasi kekurangan siswa, Disdikbudpora Kabupaten Semarang mengambil langkah taktis dengan membuka jalur pendaftaran SPMB secara offline bagi sekolah yang masih memiliki sisa kuota.
“Memang kita cari solusi untuk mengatasi kondisi tersebut, yaitu dengan membuka pendaftaran offline sampai nanti masa efektif masuk sekolah, itu masih kita buka pendaftarannya secara offline atau diperbolehkan langsung mendaftar di sekolah,” terangnya.
Ia menuturkan kebijakan ini akan terus diberlakukan guna menjaring calon peserta didik baru yang belum mendapatkan sekolah.
“Perbedaan utama antara jalur reguler dan jalur ini hanya terletak pada teknis pendaftarannya saja. Jika jalur reguler sebelumnya terintegrasi secara online dalam sistem, maka jalur ini dilakukan secara manual dengan datang langsung ke sekolah,” bebernya.
Meski begitu, Taufiq menegaskan seluruh persyaratan dokumen dan kriteria mendasar tidak ada yang berubah dan akan tetap sama persis dengan aturan SPMB yang dilaksanakan secara online.
Berdasarkan data lapangan, wilayah-wilayah pinggiran seperti Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Bringin, dan Kecamatan Bancak menjadi daerah yang paling banyak memiliki sisa kuota untuk jenjang sekolah dasar (SD).
“Misalnya di Kecamatan Kaliwungu, lulusan TK berapa, dengan kuota SD berapa itu lebih luas SD-nya. Jadi, daya tampungnya tidak seimbang,” jelasnya.
Kondisi ini berbeda dengan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurutnya SMP yang berada di wilayah pusat kota lebih diminati daripada di pinggiran.
“Seperti Kecamatan Ungaran itu memang peminat yang sangat membludak, artinya kuotanya semua terpenuhi khusus untuk jenjang SMP,” sebutnya.
Ia berharap dengan adanya kebijakan pendaftaran offline, sekolah-sekolah di wilayah pinggiran tetap mendapatkan siswa baru sebelum tahun ajaran baru dimulai.
“Kepada orang tua yang anaknya belum mendapatkan sekolah manapun baik di jenjang SD dan SMP di Kabupaten Semarang, diimbau untuk segera memanfaatkan kesempatan ini dengan mendatangi langsung sekolah-sekolah yang masih memiliki sisa kuota,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















