KENDAL, Beritajateng.id – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal mencatat sebanyak 1.444 hektar lahan sawah terdampak banjir. Akibatnya, tanaman padi di ribuan lahan tersebut berpotensi terancam gagal panen.
Kepala DPP Kabupaten Kendal, Pandu Rapringat Rogojati, mengatakan sebagian besar lahan sawah itu baru memasuki masa tanam. Sehingga menurutnya banjir berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi.
Pandu menyebut genangan air banjir yang berlangsung selama beberapa hari dapat berdampak serius terhadap padi yang masih berada pada fase awal pertumbuhan.
“Total ada 1.444 hektar lahan sawah yang baru ditanami padi dan kini terendam banjir di berbagai kecamatan,” kata Pandu, Selasa, 20 Januari 2026.
Adapun lahan sawah di Kabupaten Kendal yang terdampak banjir tersebar di sejumlah wilayah. Diantaranya Kecamatan Patebon seluas 141 hektar, Kecamatan Kaliwungu 68 hektar, Kecamatan Cepiring 20 hektar.
Kemudian Kecamatan Brangsong 407 hektar, Kecamatan Kendal 74 hektar, Kecamatan Rowosari 512 hektar, Kecamatan Weleri 13 hektar, Kecamatan Ngampel 177 hektar, serta Kecamatan Pegandon 32 hektar.
Menurut Pandu, tanaman padi yang terlalu lama terendam air berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, bahkan mati, apabila banjir tidak segera surut.
Hingga saat ini pihaknya terus melakukan pendataan serta koordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi lahan sawah dan menyiapkan langkah penanganan lanjutan.
“Harapannya genangan bisa segera surut agar tanaman padi masih bisa diselamatkan,” imbuhnya.
Salah seorang petani di Desa Brangsong, Susanto, mengatakan wilayahnya menjadi salah satu yang terdampak banjir cukup serius. Sebagian besar sawah ikut terendam air dan rata-rata sudah memasuki masa tanam.
“Bibit padi baru sebulanan kita tanam tapi malah ada banjir,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan tanaman padi. Pasalnya, padi sudah terlanjur ditanam sebelum banjir melanda wilayah tersebut.
“Kita hanya bisa menunggu air surut dan berharap tanaman padi tidak mati akibat terendam terlalu lama,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















