KENDAL, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten Kendal menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di Tirto Arum, Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Dalam kegiatan ini, sebanyak 53 peserta dibekali pengetahuan mengenai mitigasi dan langkah-langkah dalam menghadapi bencana yang dapat datang sewaktu-waktu. Para peserta itu juga dipersiapkan sebagai penggerak edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
Bupati Dyah Kartika Permanasari menilai edukasi kebencanaan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh, terlebih Kabupaten Kendal memiliki potensi menghadapi berbagai ancaman bencana.
Menurutnya, kesiapan masyarakat harus dibangun sebelum bencana terjadi. Dengan memiliki pengetahuan kebencanaan, ia berharap masyarakat tidak mudah panik dan mampu mengambil tindakan yang tepat di saat situasi genting.
“Dengan mengikuti kegiatan sekolah lapang ini, masyarakat dibekali ilmu-ilmu terkait mitigasi bencana. Sehingga apabila terjadi bencana yang datangnya tiba-tiba, masyarakat sudah memiliki kesiapan untuk menghadapinya,” tutur Bupati Tika, sapaan akrabnya.
Dalam kesempatan ini, Bupati Tika menyampaikan apresiasi kepada Mochamad Herviano Widyatama yang telah membawa aspirasi pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi di Kendal, serta kepada BMKG dan BPBD yang turut mendukung kegiatan tersebut.
Ia berharap pembekalan yang diberikan dapat memperkuat ekosistem kesiapsiagaan bencana di tingkat masyarakat, sehingga upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI Mochamad Herviano Widyatama melalui perwakilannya, Eksan Kusbandono, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk aspirasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko gempa bumi.
Menurutnya, pengetahuan kebencanaan tidak cukup hanya berhenti pada peserta pelatihan. Setelah mengikuti SLG, mereka diharapkan dapat meneruskan informasi dan keterampilan yang diperoleh kepada keluarga, tetangga, maupun masyarakat di sekitarnya.
“Tujuannya memberikan edukasi kepada masyarakat yang hadir agar mengetahui apa saja yang perlu dilakukan apabila bencana gempa bumi datang tiba-tiba. Pengetahuan yang didapat hari ini diharapkan bisa disampaikan kembali kepada tetangga, teman, maupun saudara,” ujarnya.
Eksan berharap keterlibatan masyarakat dari berbagai elemen mampu menciptakan efek domino dalam meningkatkan budaya kesiapsiagaan. Dengan semakin banyak warga yang memahami langkah penyelamatan diri, potensi jatuhnya korban saat bencana dapat ditekan.
Sedangkan Kepala Stasiun BMKG Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo, menjelaskan peserta tidak hanya memperoleh materi secara teori. Mereka juga mengikuti praktik atau gladi ruang untuk memahami peran masing-masing ketika terjadi gempa bumi.
“Materinya mulai dari kesiapsiagaan gempa bumi, potensi gempa bumi, sampai gladi ruang. Dalam gladi ruang akan diperagakan peran dari masing-masing elemen masyarakat ketika gempa terjadi, kemudian hasilnya dievaluasi,” jelasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















