SEMARANG, Beritajateng.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat sebanyak 38.000 jiwa terdampak banjir yang melanda wilayah timur Kota Semarang sejak beberapa hari terakhir.
Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martanto mengatakan, tiga kecamatan menjadi fokus utama penanganan, yaitu Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari.
Adapun daerah yang paling parah terkena banjir, kata dia, yakni wilayah Pedurungan dan Genuk.
“Genuk itu hampir seluruh kawasan yang kemarin terendam, termasuk Muktiharjo Kidul di Pedurungan. Sampai sekarang masih ada genangan,” ujarnya, Minggu, 26 Oktober 2025.
Untuk membantu warga terdampak, BPBD bersama Pemerintah Kota Semarang mendirikan 23 dapur umum yang tersebar di tiga kecamatan tersebut. Dapur umum juga dibuka secara mandiri oleh warga di tingkat kelurahan dan RW.
“Dapur umum hampir merata di kelurahan hingga RW yang terdampak. Pemerintah kota membantu dengan suplai logistik bahan-bahan seperti telur, sarden, mie kering, hingga tabung gas,” katanya.
Ia menambahkan, stok logistik hingga kini masih aman. Selain dari pemerintah, bantuan juga datang dari berbagai pihak melalui program CSR perusahaan dan organisasi masyarakat.
“Untuk kebutuhan satu minggu kedepan, logistik masih mencukupi sekali,” tegasnya.
Selain itu, Endro mengungkap air mulai berangsur surut di sejumlah lokasi. Di kawasan Kaligawe Raya, terutama di depan RSI Sultan Agung hingga ke arah timur, ketinggian air yang sebelumnya mencapai 80 sentimeter kini turun menjadi sekitar 50–60 sentimeter.
“Untuk kawasan perumahan, genangan sudah menurun di kisaran 20–30 sentimeter. Ini juga berkat operasi modifikasi cuaca (OMC) oleh BNPB yang masih berlangsung beberapa hari kedepan,” jelasnya.
Operasi modifikasi cuaca tersebut, kata dia, bertujuan menggeser potensi hujan dari wilayah terdampak banjir ke daerah lain.
“Hari ini hujan tidak lagi di wilayah Genuk dan Pedurungan, tapi justru bergeser ke wilayah Sampangan,” ujarnya.
Selain itu, seluruh pompa air di wilayah terdampak kini dioperasikan secara maksimal, dibantu oleh Dinas Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta BPBD Provinsi Jawa Tengah.
“Konsentrasi kita sekarang bagaimana air bisa segera surut. Semua pompa, baik milik kota maupun bantuan provinsi, kita maksimalkan,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















