SEMARANG, Beritajateng.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mencatat angka kemiskinan pada 2025 mengalami penurunan. Meski begitu, Kecamatan Semarang Utara masih menjadi wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Ibu Kota Jawa Tengah.
Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Semarang dan Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Kota Semarang tercatat sebesar 3,80 persen atau sekitar 74.360 jiwa.
Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 4,03 persen atau sekitar 77,79 ribu jiwa.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Endang Sarwiningsih, mengatakan meski secara umum angka kemiskinan menurun namun Semarang Utara masih menjadi kantong kemiskinan terbesar, terutama di kawasan Tanjung Mas dan Bandarharjo.
“Wilayah dengan kemiskinan tertinggi masih di Semarang Utara, khususnya Tanjung Mas dan Bandarharjo,” katanya Minggu, 1 Februari 2026.
Menurut Endang, kondisi geografis serta ketergantungan masyarakat pada sektor kelautan menjadi faktor utama tingginya angka kemiskinan di kawasan tersebut.
“Rata-rata warganya nelayan. Ketika cuaca ekstrem seperti sekarang, mereka tidak bisa melaut. Akhirnya menghabiskan tabungan, bahkan harus berutang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Dalam penentuan status kemiskinan, Pemkot Semarang saat ini mengacu pada 39 indikator yang dikelola BPS melalui sistem satu data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Indikator tersebut meliputi kondisi rumah, kepemilikan aset, penghasilan, hingga jumlah tanggungan keluarga.
“Dari indikator itu kemudian dikelompokkan ke dalam desil 1 sampai desil 10. Desil 1 merupakan kategori miskin ekstrem,” katanya.
Sedangkan untuk menekan angka kemiskinan, Pemkot Semarang tidak hanya mengandalkan Dinas Sosial, melainkan melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
Sejumlah program digulirkan, mulai dari pemberdayaan UMKM, pelatihan kerja, bantuan permodalan, hingga penyaluran bantuan sosial.
“Disnaker juga bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan PNM untuk merekrut lulusan SMA dan SMK agar bisa langsung bekerja,” tuturnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















