KUDUS, Beritajateng.id – Kabupaten Kudus akan membuat standar untuk menu makanan dalam program makan bergizi gratis (MBG). Skema standarisasi ini telah diajukan ke Badan Gizi Nasional (BGN) dan masih menunggu pengesahan.
Ketua Satgas MBG sekaligus Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, mengatakan standarisasi menu diperlukan agar kualitas MBG yang diterima para siswa tidak bergantung pada kebijakan masing-masing dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dengan adanya pedoman yang sama, pihaknya berharap asupan gizi yang diterima anak-anak lebih terukur dan sesuai kebutuhan.
“Kami sudah mengajukan ke BGN dan informasinya tinggal menunggu tanda tangan dari pusat. Nanti standarisasi dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan BGN. Pengelola dapur juga akan mendapatkan pelatihan agar mampu menerapkan standar yang telah ditetapkan,” ujarnya, Rabu, 3 Juni 2026.
Menurut Bellinda, skema standarisasi bukan berarti seluruh dapur harus menyajikan menu makanan yang sama setiap hari. Sebaliknya, Satgas akan menyusun sejumlah pilihan menu yang telah memenuhi standar gizi sehingga dapat dipilih dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing dapur.
Ia mencontohkan, ke depan bisa tersedia sekitar 20 menu standar yang dapat digunakan secara bergantian. Dengan demikian, variasi makanan tetap terjaga tanpa mengurangi kualitas kandungan gizinya.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian Satgas, kata dia, adalah penggunaan susu kemasan dalam program MBG.
“Selama ini setiap dapur memiliki kebebasan menentukan merek susu yang digunakan. Akibatnya, kandungan gizi antar produk dapat berbeda-beda,” ucapnya.
Karena itu, pihaknya berencana menetapkan standar minimal kandungan susu yang harus dipenuhi oleh setiap produk yang disajikan kepada penerima manfaat. Langkah tersebut dilakukan agar kualitas nutrisi yang diterima siswa tetap setara, meskipun merek produk yang digunakan berbeda.
“Jangan sampai hanya kemasannya saja susu kotak, tetapi kandungan susunya rendah. Kami ingin anak-anak benar-benar mendapatkan makanan bergizi, bukan sekadar kenyang,” tegas Bellinda.
Melalui penentuan standar untuk menu ini, Kudus berupaya menjadi salah satu daerah yang tidak hanya menjalankan program MBG sebagai kegiatan penyediaan makanan, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan kualitas gizi anak.
“Menu yang terukur dan sesuai standar Angka Kecukupan Gizi (AKG), manfaat program diharapkan dapat dirasakan lebih optimal untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan generasi muda,” ungkapnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















