REMBANG, Beritajateng.id – Sebanyak 131 kasus baru HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Rembang per Oktober 2025. Tercatat, 60 persen penderitanya berjenis kelamin laki-laki.
Epidemiolog Dinas Kesehatan Rembang, Martha Gusmanthika menegaskan, kasus tersebut saat ini mengalami lonjakan kenaikan. Sejak awal pendataan, sekitar 400 kematian akibat HIV/AIDS tercatat di wilayah setempat.
“Per bulan ini ada 131 kasus baru, sekitar 60 persen diantaranya laki-laki,” tegas Martha, Selasa, 9 Desember 2025.
Berdasarkan pemetaan, lima kecamatan dengan kasus paling tinggi yaitu Kecamatan Rembang, Kaliori, Sarang, Pamotan, dan Kragan. Sedangkan Sumber dan Sluke menjadi daerah dengan angka kasus paling rendah.
“Pemetaan ini penting agar intervensi bisa lebih terarah,” ujarnya.
Kelompok usia 35–39 tahun, kata dia, menjadi yang paling dominan terinfeksi, disusul usia di atas 50 tahun. Namun yang paling mengkhawatirkan menurutnya kasus pada usia sangat muda yang mulai bermunculan.
“Untuk usia di bawah 20 tahun, ada 21 orang yang terdeteksi positif dari pemeriksaan calon pengantin (catin),” bebernya.
Martha menilai, lonjakan kasus HIV tak lepas dari pergaulan bebas dan perluasan skrining yang kini menyasar populasi umum seperti ibu hamil, pasien TBC, calon pengantin, sopir, nelayan, hingga pekerja kafe.
“Kami rutin skrining tiga bulanan di kafe dan tempat keramaian. Untuk nelayan, kalau sulit ditemui, pemeriksaan lewat istrinya,” katanya.
Ia mengatakan pengendalian penularan sangat bergantung pada kepatuhan terapi ARV. Pemeriksaan viral load dilakukan enam bulan setelah memulai ARV, bulan ke-12, dan selanjutnya setahun sekali.
“Kalau pasien patuh minum ARV dengan adhesi di atas 90 persen, virusnya biasanya tersupresi. Jika viral load di bawah 40 kopi per mililiter, mesin tidak akan mendeteksi. Itu artinya tidak menularkan,” tegas Martha.
Martha mengingatkan bahwa persoalan HIV bukan hanya urusan medis.
“Kesehatan hanya memeriksa dan mengobati. Untuk intervensi ke remaja, edukasi, dan penguatan keluarga, kita butuh dukungan lintas sektor,” tandasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















