KUDUS, Beritajateng.id – Kenaikan permintaan sejumlah komoditas pangan seperti daging hingga bahan bakar minyak (BBM) diduga menjadi pemicu terjadinya inflasi di Kudus. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi yang terjadi pada Maret 2026 sebesar 0,47 persen.
Kepala BPS Kabupaten Kudus, Eko Suharto, menjelaskan inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mencapai 110,99 pada Maret 2026. Ia mengatakan, secara tahunan (year-on-year), inflasi Kudus tercatat sebesar 3,55 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 0,95 persen.
“Secara umum, inflasi bulan ini masih terkendali meskipun terjadi peningkatan permintaan selama Ramadan,” katanya, Kamis, 2 April 2026.
Berdasarkan data BPS, lima komoditas penyumbang inflasi terbesar secara bulanan yakni daging ayam ras, angkutan antar kota, bensin, ikan bandeng, dan udang basah. Sementara itu, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau mengalami deflasi, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang putih, wortel, dan cumi-cumi.
“Komoditas seperti daging ayam ras, angkutan antar kota, dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi penyumbang utama inflasi selama Maret,” jelasnya.
Eko mengungkapkan, kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 0,88 persen dan andil 0,24 persen. Selain itu, sektor transportasi juga mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 0,84 persen dengan andil 0,10 persen.
Fenomena inflasi ini, kata Eko, memang tidak lepas dari momentum Ramadan. Berdasarkan tren historis lima tahun terakhir, inflasi hampir selalu terjadi pada periode tersebut.
“Namun, inflasi Ramadan tahun ini relatif lebih rendah dibandingkan Ramadan 2022 dan 2025. Ini menunjukkan kondisi harga masih cukup terkendali,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Eko menyebut bahwa jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Tengah, tingkat inflasi Kudus masih sejalan dengan rata-rata provinsi. Inflasi Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,57 persen (mtm) dan 3,54 persen (yoy), sementara Kudus berada di angka 0,47 persen (mtm) dan 3,55 persen (yoy).
BPS memperkirakan, harga komoditas kedepannya masih akan berpotensi untuk mengalami kenaikan. Khususnya dari kelompok bahan makanan, masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi, terutama selama periode hari besar keagamaan.
“Pengendalian pasokan dan distribusi menjadi kunci agar inflasi tetap stabil,” pungkasnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















