REMBANG, Beritajateng.id – Penurunan harga garam membuat petani di wilayah Kabupaten Rembang merasa kecewa. Hal ini lantaran tahun ini produksi garam meningkat seiring dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu petani garam asal Kecamatan Lasem, Sukardi, menuturkan peningkatan produksi hasil garam tidak lepas dari musim kemarau tahun ini. Dalam satu petak lahan, ia mengungkap garam yang dihasilkan bisa mencapai 12-15 sak garam.
“Musim kemarau saat ini satu petak bisa dapat 12 sampai 15 sak,” katanya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Namun, menurutnya peningkatan produksi tersebut justru menjadi persoalan karena harga garam di tingkat petani mengalami penurunan cukup tajam. Ia mengungkap di tingkat petani harga garam yang sebelumnya mencapai Rp1.250 kini hanya sekitar Rp550 per kilogram.
“Produksi memang banyak, tetapi harganya turun. Kondisi ini membuat petani kecewa karena hasil yang melimpah tidak sebanding dengan pendapatan,” ujarnya.
Di sisi lain, kualitas dan ukuran butiran garam pada musim kemarau tahun ini dinilai lebih baik dibandingkan saat kemarau basah tahun sebelumnya.
Cuaca panas, kata dia, membuat proses kristalisasi berjalan lebih maksimal. Kondisi tersebut membuat produksi garam meningkat tajam dan butiran garam yang dihasilkan terlihat lebih besar.
Namun, melimpahnya produksi tanpa diikuti harga yang memadai justru menjadi beban bagi petani. Musim kemarau yang seharusnya menjadi momentum meningkatkan pendapatan, malah berpotensi menimbulkan kerugian.
Petani berharap pemerintah turun tangan untuk menjaga harga garam di tingkat petani. Salah satunya melalui penetapan standar atau harga acuan agar petani tidak sepenuhnya bergantung kepada tengkulak maupun makelar.
“Petani berharap pemerintah turun tangan menetapkan standar harga garam. Dengan begitu mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak atau makelar,” pungkas Sukardi.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia















