SEMARANG, Beritajateng.id – Bendungan Kalidoh di wilayah Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang mulai mengering akibat musim kemarau. Hal ini berdampak terhadap pasokan air baku Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang.
Untuk memastikan air tetap tersedia bagi masyarakat, saat ini PDAM menerapkan skema pergiliran aliran air di sejumlah wilayah Kota Semarang. Giliran ini diatur per 12 jam sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan debit air yang lebih parah.
Sejumlah wilayah yang terdampak diantaranya Karangrejo Selatan dan Kampung Pentul. Sementara wilayah Jatingaleh, Jatiluhur, Jangli Perbalan, Saptamarga, dan Tamtama juga masuk dalam skema pergiliran.
Kepala Humas Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang, Charisma Mayang, mengatakan pengaturan aliran tersebut mulai diterapkan sejak Senin, 14 September 2026 kemarin.
“Saat ini memang kalau giliran dua hari itu hanya untuk antisipasi terburuknya. Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang masih terus mengoptimalisasi debit air dengan skema 12 jam aliran,” katanya Rabu, 16 September 2026.
Menurutnya, skema tersebut akan diterapkan hingga kondisi air baku kembali optimal. PDAM juga mengimbau masyarakat terdampak untuk menyiapkan cadangan air dengan menandon air saat aliran tersedia.
Mayang menegaskan, gangguan pasokan kali ini bukan disebabkan oleh kondisi IPA Klambu Kudu di Genuk. Penurunan debit terjadi pada aliran Bendungan Kalidoh yang berada di Kabupaten Semarang.
“Kalau ini memang efeknya bukan dari IPA Klambu Kudu (di Genuk), tapi dari aliran Kalidoh yang ada di Kabupaten Semarang,” jelasnya.
Ia menerangkan PDAM tetap berupaya menjaga ketersediaan air baku dengan mengoptimalkan sumber air permukaan. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap air tanah yang dinilai dapat memperparah persoalan penurunan muka tanah di Kota Semarang.
“Air tanah harus ditinggalkan karena mempengaruhi penurunan muka tanah di Semarang,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz/Lingkar Network
Editor: Utia Lil















