BLORA, Beritajateng.id – Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup resmi dihentikan sementara usai muncul kasus dugaan keracunan dari makan bergizi gratis (MBG) yang dibagikan ke SDN 1 Tutup, Kecamatan Tunjungan.
Koordinator Wilayah SPPG Blora, Artika Diannita, mengatakan pihaknya telah mendatangi sekolah setelah menerima laporan kejadian dugaan keracunan pada Kamis, 1 Oktober 2026. Dugaan tersebut, bermula adanya keluhan siswa berupa mual, pusing hingga muntah.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dari pihak Puskesmas Tunjungan, ada sekitar 13 siswa yang mengalami gejala mual, pusing, dan muntah. Para siswa sudah diperiksa dan diperbolehkan pulang,” ungkap Artika.
Ia menjelaskan, laporan kejadian cepat telah disampaikan kepada pimpinan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang. Laporan tersebut memuat kronologi keluhan, jumlah siswa terdampak, asal SPPG, hingga menu makanan yang disajikan.
Terkait penghentian operasional, Artika menyebut keputusan akhir berada di tangan pimpinan pusat. Namun, untuk sementara, SPPG yang berada dibawah Yayasan Pelita Gizi Makmur itu dipastikan tidak beroperasi mulai Jumat, 2 Oktober 2026.
“Kalau ada kejadian seperti ini, biasanya kami laporkan ke pimpinan. Untuk kemungkinan tutup sementara, keputusan tetap ada pada pimpinan pusat,” jelasnya.
Sementara itu, penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa masih dalam penyelidikan. Ia menyebut sampel makanan telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk diperiksa lebih lanjut.
Lebih lanjut, Artika mengatakan, menu MBG yang disajikan saat kejadian berupa telur ceplok berbumbu rempah. Pihaknya belum dapat memastikan apakah keluhan tersebut berkaitan dengan telur, bumbu, atau faktor lainnya.
Ia juga mengaku telah mendengar informasi mengenai telur yang berbau sebagaimana disampaikan pihak sekolah. Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan sampel.
“Iya, kalau tadi sempat ada pernyataan telurnya bau. Jadi menunya kan telur ceplok disiram bumbu rempah. Nah, rempahnya itu kita masih belum tahu, rempahnya itu mungkin rempah-rempah yang ada ebi-nya ya,” terangnya.
“Mungkin dari sebagian anak mungkin ada yang alergi atau apa, kan kita belum tahu juga. Jadi masih diselidiki,” tambah Artika.
Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi di Tunjungan Blora, Puluhan Siswa Diperiksa
Mengenai maraknya insiden keracunan MBG, Artika menegaskan pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di wilayah Blora juga akan diperketat. Pihaknya bersama koordinator kecamatan akan meningkatkan koordinasi dan melakukan inspeksi mendadak (sidak), terutama pada jam-jam krusial.
“Kalau kita perketat koordinasi. Juga dari Korwil dan juga Korcam juga melakukan sidak juga di jam-jam krusial. Seperti di jam 03.00 pagi dan juga di sore hari saat penerimaan bahan baku.” Tandasnya.
Sebagai informasi tambahan, SDN 1 Tutup melaporkan sebanyak 13 siswa didiknya mengalami keluhan kesehatan berupa mual, pusing, hingga muntah, pasca menyantap MBG pada Kamis, 1 Oktober 2026. Belasan siswa tersebut berasal dari kelas 1 hingga kelas 4.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Utia Lil















