GROBOGAN, Beritajateng.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Grobogan merespon keluhan masyarakat mengenai penebangan ratusan pohon untuk kelancaran proyek pembangunan drainase.
Sekretaris DPUPR Grobogan, Erry Subagyo, menuturkan penebangan itu telah disesuaikan dengan kajian pembangunan drainase yang kondisinya sudah tidak memadai.
Ia mengatakan kondisi drainase telah dikaji melalui perencanaan dan investigasi oleh konsultan. Hasil kajian menunjukkan dimensi drainase, baik lebar maupun kedalamannya, sudah tidak sesuai dengan kebutuhan.
“Yang ramai kan saat ini pemotongan pohon itu ya. Jadi saya jelaskan, drainase saat ini setelah dilakukan perencanaan oleh konsultan, telah disurvei dan diinvestigasi kondisinya. Saat ini sudah tidak memadai dari kondisi dimensi ukuran, baik lebar maupun dalamnya kurang,” ujar Erry.
Menurutnya, persoalan tidak hanya berkaitan dengan ukuran drainase. Akar pohon yang tumbuh di sepanjang jalur tersebut juga telah merusak bagian luar trotoar.
“Akar menyerang bagian luar trotoar sehingga paving pecah, miring, sehingga tidak layak untuk pengguna jalan dan berbahaya,” jelasnya.
Selain merusak trotoar, akar pohon juga disebut telah masuk ke saluran drainase lama. Kondisi tersebut membuat sebagian saluran tertutup akar sehingga turut mengganggu fungsi drainase.
Erry menjelaskan, pembangunan drainase baru membutuhkan dimensi yang lebih lebar dan dalam. Kondisi pohon yang berada tepat di sekitar saluran membuat pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan tanpa penebangan.
“Kalau pohon dipotong itu akan menyebabkan tumbang dan membahayakan. Solusinya, drainase dilebarkan dan diganti dengan beton yang tidak dapat ditembus air,” katanya.
Ia menegaskan, pohon yang ditebang nantinya tidak sekadar diganti dengan bibit. Pemerintah berencana menggantinya dengan pohon yang sudah berukuran besar sehingga kawasan tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali rindang.
“Jadi dari pohon yang sudah ada diganti dengan pohon baru, bukan bibit. Pohon jadi, nanti diameternya 15, 20, bahkan sampai 25,” ungkapnya.
Ada dua jenis pohon yang disiapkan untuk menggantikan pohon yang ditebang, yakni pule dan tabebuya. Erry menyebut pohon pule seperti yang berada di kawasan Simpang Lima Purwodadi, sementara tabebuya akan ditanam seperti yang berada di sekitar SMP Negeri 6.
“Kalau tabebuya seperti di SMP 6, saat kembang mekar suasananya adem. Kalau pule, menurut pengalaman kalau sudah satu tahun sudah rimbun,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, pihaknya menargetkan kawasan yang terdampak penebangan pohon dapat kembali hijau dalam waktu sekitar satu tahun.
“Untuk masyarakat kita janjikan dalam satu tahun sudah kembali rimbun,” tegasnya.
Erry menambahkan, total pohon yang ditebang dalam proyek tersebut mencapai 648 pohon. Namun, jumlah pohon yang nantinya ditanam kembali dipastikan lebih banyak dibandingkan jumlah pohon yang ditebang.
“Adapun pohon yang ditebang sebanyak 648, namun nantinya pohon yang ditanam akan lebih banyak dari itu,” katanya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Utia Lil















