BLORA, Beritajateng.id – Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) mulai diuji coba menggunakan sistem prasmanan, alih-alih menggunakan ompreng. Uji coba ini diterapkan di SPPG Ngawen 1 sebagai pilot project pada Senin, 5 Oktober 2026.
Sistem prasmanan diuji untuk meminimalkan risiko kejadian yang tidak diinginkan seperti keracunan yang sering terjadi. Selain itu, penerapan sistem ini untuk memastikan makanan diterima siswa dalam kondisi lebih hangat.
Ketua Satgas MBG Blora sekaligus Wakil Bupati Sri Setyorini mengatakan sistem prasmanan MBG tersebut dinilai lebih nyaman karena siswa dapat mengambil makanan sendiri sesuai kebutuhan.
“Kelihatannya lebih nyaman karena porsinya sesuai yang diinginkan. Penerima manfaat juga bisa ambil sendiri,” kata Bude Rini, sapaan akrabnya.
Menurutnya, kebutuhan makan setiap anak berbeda sehingga porsi tidak harus disamaratakan. Namun, ia menekankan bahwa komposisi dan kecukupan gizi tetap menjadi perhatian.
“Takaran gizinya juga saya lihat sesuai, artinya seimbang. Kebutuhan setiap anak berbeda, jadi bisa disesuaikan dengan perut mereka masing-masing,” ujarnya.
Ia menerangkan uji coba sistem prasmanan pada program MBG tersebut berlangsung selama dua pekan. Hasilnya akan dievaluasi dan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
Apabila evaluasi menunjukkan nilai baik maka Pemerintah Kabupaten Blora akan mengusulkan penerapan sistem prasmanan secara lebih luas ke seluruh dapur SPPG.
“Nanti kalau uji coba ini berhasil dan baik, kita usulkan kalau bisa prasmanan semua. Setelah itu akan kita sosialisasikan lagi,” terang Bude Rini.
Sementara itu, Korwil SPPG Blora, Artika Diannita, menjelaskan penerapan sistem prasmanan merupakan arahan dari Deputi Sistem dan Tata Kelola. Berdasarkan nota dinas tertanggal 30 September, terdapat 42 SPPG di Indonesia yang ditunjuk sebagai lokasi uji coba.
“Penunjukan ini dari pusat. Uji coba dua minggu, nanti setelahnya kami laporkan hasilnya kepada BGN,” jelasnya.
Dia mengatakan tidak ada ketentuan khusus terkait menu yang harus disajikan dalam uji coba tersebut. Menurutnya menu disesuaikan dengan masing-masing dapur SPPG.
“Untuk menu tergantung AG (Ahli Gizi, red) dapur masing-masing. Tidak ada juknis harus menu apa,” katanya.
Menurutnya salah satu tujuan utama sistem prasmanan adalah menekan risiko kejadian yang tidak diinginkan. Makanan juga dapat langsung dikonsumsi dalam kondisi hangat.
“Goal-nya meminimalkan kejadian fatal. Sistem prasmanan ini kan kondisinya makanan masih hangat,” ujarnya.
Disisi lain, pengelola SPPG Ngawen 1, Febrian Candra, menilai sistem prasmanan membuat makanan lebih segar ketika diterima siswa. Siswa juga dapat mengambil makanan secara mandiri.
“Saya lebih suka seperti ini. Makanannya panas dan segar, siswa ambil sendiri,” kata Febrian.
Menurut Febrian, konsep tersebut terinspirasi dari sistem makan di Jepang atau Kyushoku. Selain pemenuhan gizi, sistem tersebut dinilai dapat menjadi sarana edukasi karakter bagi siswa.
“Ini juga bisa mengintegrasikan edukasi gizi dan karakter. Anak-anak belajar disiplin, kebersihan, dan tanggung jawab,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Utia Lil















