PATI, Beritajateng.id – Kasus dugaan kekerasan terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tlogowungu. Peristiwa yang menimpa seorang siswa pada Selasa, 29 September 2026 ini diketahui berawal dari tuduhan mencuri sabun.
Korban berinisial D mengaku dipukul teman sekolahnya di asrama pada Selasa malam hingga mengalami luka di sejumlah bagian tubuh dan satu giginya terlepas. Menurutnya setelah selesai makan, seorang teman menanyakan apakah ia mengambil sabun miliknya.
D pun mengaku tidak mengambil sabun milik temannya tersebut. Namun, menurut pengakuannya, ia tiba-tiba mendapat pukulan dari seseorang yang tidak dikenalnya.
“Saya ditanya, kamu ambil sabunku? Saya jawab tidak. Tiba-tiba dipukul. Saya tidak tahu siapa yang memukul karena kondisi kamar sudah gelap,” ungkap D saat ditemui di Keluarga Sehat Hospital (KSH), Jumat, 9 Oktober 2026.
Menurut D, pemukulan pertama terjadi di kamar asrama. Setelah sempat berhenti, ia mengaku kembali mengalami kekerasan seusai waktu Isya. Peristiwa kedua itu disebut berlangsung sekitar 20 menit.
D mengaku tidak bisa memastikan identitas orang-orang yang memukulnya karena kondisi ruangan gelap. Ia memperkirakan jumlah orang yang terlibat dalam dua kejadian tersebut lebih dari sepuluh orang.
“Setelah itu saya dipojokkan. Sempat selesai, tetapi setelah Isya dilanjutkan lagi. Sekitar 20 menit saya dipukuli, terutama di bagian kepala,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, D mengaku mengalami lebam di punggung, luka pada gusi, serta satu gigi terlepas. Hingga Jumat (9/10), ia masih merasakan nyeri pada gigi dan pusing.
D juga mengungkapkan dugaan adanya arahan dari salah seorang guru saat dirinya menjalani pemeriksaan di RSUD RAA Soewondo Pati sebelumnya.
Menurut pengakuannya, ia diminta mengatakan bahwa luka yang dialaminya akibat terjatuh dari tangga.
“Disuruh bilang saja jatuh dari tangga. Katanya, nanti kalau tidak bilang begitu, dokter tidak bisa merawat,” tutur D, mengingat perkataan yang menurutnya disampaikan guru tersebut.
D menyebut sebelumnya tidak pernah memiliki persoalan ataupun berinteraksi dengan orang-orang yang diduga terlibat dalam kejadian itu. Ia juga mengaku sempat melaporkan peristiwa tersebut kepada guru, tetapi mendapat jawaban bahwa masalah itu akan ditangani keesokan harinya.
Pengalaman tersebut membuat D mengaku trauma dan tidak ingin kembali bersekolah untuk sementara waktu. Selain masih mengalami keluhan fisik, ia merasa takut jika harus kembali bertemu dengan teman-temannya di lingkungan sekolah.
“Saya tidak mau kembali ke sekolah karena masih trauma,” ujarnya.
Sementara itu, ibu korban, Jeane Puspita Dewi, mengaku baru mengetahui kondisi anaknya pada Kamis, 1 Oktober 2026 ketika mendatangi RSUD RAA Soewondo Pati.
Saat berada di poli gigi, ia mendapat informasi dari wali asuh bahwa anaknya mengalami luka pada gigi akibat dugaan pengeroyokan oleh teman-temannya.
Jeane menyebut pihaknya mendapat informasi bahwa sekitar 14 siswa diduga terlibat. Namun, ia mengaku belum mengetahui identitas masing-masing siswa yang diduga melakukan pemukulan.
“Selain kerusakan gigi, anak saya mengalami nyeri dan lebam di bagian pundak serta benjolan di dahi,”
Karena anaknya mengalami sesak napas dan giginya terus mengeluarkan darah, ia kemudian membawa D ke KSH pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut Jeane, satu gigi anaknya terlepas sepenuhnya, sedangkan satu gigi lainnya mengalami patah dan harus dipasang kawat untuk membantu kestabilan.
Jeane menambahkan, mediasi yang melibatkan dinas terkait telah dilakukan pada Senin, 5 Oktober 2026 lalu. Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Ia juga menyatakan belum menerima permintaan maaf dari pihak yang diduga terlibat.
“Anak saya trauma kalau bertemu banyak orang, takut, dan tidak mau sekolah lagi,” ungkapnya.
Terkait proses hukum dan pembiayaan pengobatan, Jeane menyatakan menyerahkan penanganannya kepada pengacara yang mendampinginya.
Sebelumnya, pihak Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tlogowungu menyatakan masih mendalami dugaan kekerasan tersebut, termasuk menelusuri peran masing-masing siswa.
Pihak sekolah juga menyatakan tidak membenarkan tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Jurnalis: Fahtur Rohman/Lingkar Network
Editor: Utia Lil















