TEGAL, Beritajateng.id – SMP Negeri 1 Kedungbanteng menggelar kegiatan ko-kurikuler dengan konsep kebudayaan bertema Bhinneka Tunggal Ika dengan mengusung tajuk “Merajut Kebersamaan dalam Perbedaan: Beragam Itu Nyata, Bersatu Itu Pilihan”. Kegiatan ini dimulai sejak Jumat 7 – 10 Agustus 2026.
Dari pantauan di lokasi, seluruh siswa mengikuti kegiatan dengan antusias yang digelar di lingkungan sekolah tersebut sejak pukul 07.00 WIB. Rangkaian acara dirancang tidak hanya sebagai wadah kreativitas seni, tetapi juga sebagai sarana edukasi toleransi dan kebudayaan Nusantara.
Kegiatan diawali dengan Apel Pembukaan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah dengan khidmat. Usai apel pembukaan, seluruh siswa masuk ke sesi Pengarahan oleh Wali Kelas masing-masing untuk menerima panduan teknis serta pembekalan mengenai makna kebhinekaan yang diusung dalam kegiatan hari ini.
Setelah sesi pengarahan, suasana sekolah menjadi riuh penuh semangat saat memasuki agenda utama, yakni Latihan dan Unjuk Kerja kokurikuler yang terbagi berdasarkan tingkatan kelas.
Diantaranya yakni kelas VII menampilkan paduan suara, kelas VIII tari tradisional Nusantara, serta kelas IX yang membawakan pertunjukan beragam pakaian adat dari berbagai suku dan provinsi di Indonesia.
Kepala SMP Negeri 1 Kedungbanteng, Panji Kusuma Dewi, S.Pd, M.Pd menegaskan pentingnya pelaksanaan kegiatan ko-kurikuler dengan konsep kebudayaan ini sebagai bentuk implementasi Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah.
“Keberagaman di Indonesia adalah sunnatullah dan kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri. Namun, menjaga persatuan di tengah keberagaman tersebut adalah sebuah pilihan yang harus terus kita perjuangkan dan tanamkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia menambahkan melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya cerdas secara akademis akan tetapi bangga dengan budaya Nusantara.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin para siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, rasa saling menghormati, serta kebanggaan akan warisan budaya Nusantara. Ketika siswa kelas 7 menyanyi bersama, kelas 8 menari tarian daerah, dan kelas 9 mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, di sinilah miniatur Indonesia yang harmonis itu tercipta,” kata dia
Sementara itu, Koordinator Kokurikuler Fauziah Arfianti juga menyoroti pentingnya pendidikan budaya bagi anak.
“Kami berharap anak-anak bisa lebih mengenal budaya. Bukan hanya budaya Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Tegal saja. Tapi mereka juga harus tahu budaya-budaya lain yang ada di Indonesia. Tujuannya agar mereka punya wawasan luas, bangga jadi anak bangsa, dan menghargai perbedaan,” katanya.
Jurnalis: Yadi
Editor: Tia















