BLORA, Beritajateng.id – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Blora mengungkap penanganan di tiga titik tanah ambles akan menggunakan dua teknologi konstruksi konvensional yakni bronjong dan turap kayu.
Kabid SDA DPUPR Blora, Surat, menjelaskan bronjong akan diterapkan titik tanah ambles Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo. Prinsip dari teknologi bronjong ini yakni menahan beban tanah dengan struktur batu yang diikat kawat.
Sementara tanah ambles di Desa Tutup Kecamatan Tunjungan dan Desa Puledagel Kecamatan Jepon akan menggunakan turap kayu. Kayu berupa papan, balok, atau gelondongan ini dirancang untuk menahan tanah yang tidak terlalu tinggi dan mencegah kelongsoran ringan
“Ini sifatnya hanya penangan sementara atau daruratnya, menyesuaikan anggaran. Nanti melalui konstruksi pemasangan bronjong maupun konstruksi turap kayu,” terang Surat.
Lebih lanjut, terkait anggaran pihaknya mengaku tidak mengetahui. Hal ini lantaran semua penanganan diserahkan ke BBWS Pemali Juana.
Ia mengatakan upaya penanganan tanah ambles ini dilakukan setelah tim dari BBWS Pemali Juana turun untuk mengukur topografi di wilayah terdampak.
“Beberapa minggu yang lalu sudah ada tim dari BBWS Pemali Juana. Saat ini sudah desain, semoga dalam waktu dekat proses desain sudah terjadi,” katanya.
Menurut hasil koordinasi sementara saat ini, Surat menyebut BBWS akan menangani tanah ambles dengan teknik perkuatan tebing sungai. Konstruksinya sendiri menyesuaikan situasi kondisi dilapangan yang ada.
Meski telah ada penanganan, pihaknya berharap tetap akan ada upaya mitigasi bersama, baik dari Pemkab Blora, BBWS Pemali Juana, hingga bantuan dari Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah untuk menangani tanah longsor maupun tanah ambles yang ada di sungai Lusi.
“Nanti kami juga bisa berkoordinasi dengan Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah, supaya bisa bersama-sama memikirkan bencana alam yang terjadi, untuk tanah longsor yang ada di Kabupaten Blora, agar kembali seperti semula,” tanahnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















