DEMAK, Beritajateng.id – Sebanyak delapan desa di Kecamatan Sayung masih terendam banjir hingga Rabu, 28 Januari 2026. Genangan banjir ini dipicu intensitas hujan yang tinggi secara terus menerus dan diperparah dengan saluran drainase yang tidak berfungsi optimal.
Camat Sayung, Sukarman, mengatakan hujan deras yang mengguyur wilayah Sayung dalam beberapa hari terakhir membuat air tidak dapat mengalir secara optimal ke Kali Dombo Sayung.
“Curah hujan kemarin sangat tinggi sehingga air tidak bisa keluar ke saluran Kali Dombo Sayung. Akibatnya, sejumlah desa masih tergenang,” ujar Sukarman.
Adapun desa-desa yang terdampak banjir antara lain Desa Kalisari, Karangasem, Sayung, Loireng, Purwosari, Sidorejo, Prampelan, serta sebagian wilayah desa lainnya. Sukarman mengatakan, secara keseluruhan ada sekitar delapan hingga sembilan desa yang terdampak genangan air.
Selain merendam akses jalan alternatif dan jalan desa, banjir juga menggenangi ratusan rumah warga. Di Desa Sayung, tercatat sekitar 700 rumah terdampak dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 40 sentimeter, bahkan di beberapa titik mencapai 50 sentimeter.
“Di Desa Sayung sendiri ada sekitar 700 rumah yang tergenang. Ketinggian air rata-rata 20 sampai 40 sentimeter, bahkan ada yang mencapai 50 sentimeter,” jelasnya.
Sukarman menambahkan, selain faktor curah hujan tinggi, banjir juga dipicu oleh limpasan air dari Kali Dombo yang tidak tertampung dengan baik. Ia berharap normalisasi Kali Dombo Sayung dapat segera direalisasikan guna mengurangi potensi banjir di wilayah tersebut.
“Harapan kami adalah percepatan normalisasi Kali Dombo Sayung. Jika alirannya lancar, genangan seperti ini bisa diminimalisir,” tandasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Sayung, Afifudin, mengungkapkan bahwa banjir di wilayahnya telah terjadi sejak akhir Oktober 2025 dan hingga kini belum sepenuhnya surut.
“Banjir ini sudah sejak akhir Oktober sampai sekarang belum surut. Airnya tidak bisa keluar karena hujan terus,” katanya.
Menurut Afifudin, ketinggian air di jalan mencapai sekitar 50 sentimeter, sedangkan di dalam rumah genangan air bervariasi hingga setinggi lutut orang dewasa.
“Kalau di jalan sekitar 50 sentimeter, di dalam rumah ada yang setinggi lutut. Hampir semua rumah terendam,” ungkapnya.
Akibat banjir tersebut, ia mengaku aktivitas keseharian menjadi terganggu. Sebagian warga terpaksa beraktivitas dengan berjalan kaki di genangan air, sementara lainnya menggunakan perahu karet untuk melintas di sejumlah titik yang tergenang cukup dalam.
“Ini semuanya terendam (rumah). Aktivitas ya jalan kaki, ada yang pakai perahu karet,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















