GROBOGAN, Beritajateng.id – Kenaikan harga tembakau disambut gembira para petani di wilayah Kabupaten Grobogan. Pada musim kemarau tahun ini, intensitas panah yang tinggi membuat proses pengeringan berjalan optimal sehingga mendongkrak kualitas tembakau.
Salah seorang petani tembakau, Narto, mengatakan harga tembakau kering saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan. Untuk tembakau dengan kualitas terbaik, harga di tingkat petani bahkan mampu mencapai Rp50 ribu per kilogram.
“Ada yang Rp48 ribu per kilo kering, ada yang Rp47 ribu, Rp50 ribu yang paling bagus. Standar seperti ini,” ujar Narto sembari menunjuk tembakau yang sedang dikeringkan.
Menurutnya, dalam satu musim tanam, tembakau dapat dipanen hingga tujuh sampai sembilan kali. Namun, kualitas terbaik biasanya mulai diperoleh pada panen ketiga dan seterusnya.
“Mulai panen ketiga, daunnya lebar, tebal, jadi kualitasnya juga naik,” ungkapnya.
Narto menyebut kondisi panen tembakau tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Selain kualitas yang meningkat, harga jual tembakau juga mengalami kenaikan cukup tinggi.
Tahun lalu, tembakau kering miliknya hanya mampu terjual sekitar Rp38 ribu per kilogram. Harga tersebut dinilai belum mampu memberikan keuntungan yang layak bagi petani.
“Perbedaannya jauh. Tahun lalu harganya Rp38 ribu, kita rugi. Tahun ini harganya tinggi,” katanya.
Tak hanya dari sisi harga, hasil panen tahun ini juga mengalami peningkatan secara kuantitas. Narto mengatakan hasil panennya tahun lalu berada di kisaran 40 kilogram, sedangkan tahun ini mampu mencapai sekitar 60 kilogram.
“Secara hasil panen pun jauh, tahun kemarin 40, tahun ini 60 kilo,” ujarnya.
Kondisi cuaca panas dan minim hujan yang selama ini menjadi tantangan bagi sebagian petani padi justru memberikan keuntungan bagi petani tembakau. Panas yang cukup intens membantu proses pengeringan daun tembakau sehingga kualitasnya lebih baik dan berpengaruh terhadap harga jual.
Bagi Narto dan petani tembakau lainnya, kondisi tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan pendapatan setelah menghadapi hasil dan harga yang kurang menguntungkan pada musim sebelumnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















