SEMARANG, Beritajateng.id – Warga Kota Salatiga mengeluhkan kondisi sejumlah ruas jalan yang rusak dan berlubang akibat cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, memastikan perbaikan jalan tetap akan dilakukan secara bertahap. Ia mengatakan perbaikan permanen menggunakan aspal AC-WC (Asphalt Concrete–Wearing Course) saat ini masih dalam tahap pengadaan.
Sambil menunggu proses pengadaan tersebut rampung, pihaknya melakukan penanganan darurat dengan menutup lubang-lubang jalan secara mandiri.
“Kami tetap bergerak. Aspal AC-WC masih proses e-katalog, tapi penanganan sementara terus dilakukan agar jalan tidak membahayakan pengguna,” katanya Minggu, 18 Januari 2026.
Ia mengungkap penanganan awal jalan rusak sudah dilakukan di sejumlah ruas utama. Diantaranya Jalan Imam Bonjol dan Jalan Pierre Tendean. Beberapa titik lain juga mulai ditangani secara bertahap sesuai tingkat kerusakan.
“Depan Paragon kemungkinan hari ini kami tangani. Jalan Prof Hamka sudah kami survei, nanti kami evaluasi apakah cukup ditambal atau perlu overlay. Untuk wilayah Gunungpati juga masih dalam kajian,” jelasnya.
Pada 2026 ini, Suwarto menegaskan pihaknya akan memprioritaskan perbaikan jalan penghubung antar wilayah yang dinilai strategis untuk mendukung konektivitas dan mobilitas masyarakat.
Jalan-jalan menuju wilayah perbatasan seperti Demak, Ungaran, dan Kendal masuk dalam daftar prioritas.
“Fokus 2026 adalah konektivitas wilayah dan akses transportasi antar daerah. Ruas-ruas itu sudah terdata dan siap ditangani,” ujarnya.
Ia menargetkan proses lelang pekerjaan jalan dapat dimulai pada Februari 2026. Apabila terjadi kendala, lelang paling lambat akan digelar awal Maret, sehingga pekerjaan fisik bisa dimulai setelah musim hujan.
“Mudah-mudahan Februari sudah lelang. Kalau mundur, paling awal Maret. Targetnya Maret atau April pekerjaan sudah mulai berjalan,” katanya.
Untuk mendukung perbaikan jalan itu, pihaknya menyiapkan anggaran sekitar Rp50 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pengaspalan hingga peningkatan struktur jalan, khususnya di kawasan pinggiran kota.
“Karena wilayah Kota Semarang cukup luas, ada jalan-jalan pinggiran yang harus diperkuat perkerasannya dulu sebelum diaspal. Itu nanti kami gabungkan dalam satu paket lelang,” terangnya.
Ia juga mengakui adanya kendala terkait penyediaan material. Salah satunya regulasi terbaru yang tidak memperbolehkan pihak ketiga menyimpan stok material, sementara DPU juga tidak memiliki fasilitas untuk menyimpan aspal panas.
“Sekarang tidak boleh ada stok material di pihak ketiga. DPU juga tidak memungkinkan menyimpan AC-WC. Kami hanya punya stok aspal dingin dalam karung, sekitar Rp200 juta, dan itu pun sudah habis,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, DPU Kota Semarang melakukan pencampuran material aspal secara mandiri untuk menambal lubang-lubang jalan yang dinilai berbahaya.
“Untuk sementara kami lakukan patching atau tambal sulam. Yang penting keselamatan pengguna jalan tetap terjaga sambil menunggu perbaikan permanen,” tuturya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















