SEMARANG, Beritajateng.id – Kemunculan kawanan monyet liar ekor panjang di sejumlah daerah di Jawa Tengah menimbulkan kerugian warga hingga para petani. Sebab, rata-rata kawanan satwa liar itu menyasar lahan pertanian untuk mendapatkan makanan selama kemarau.
Selain menipisnya sumber air dan pakan alami akibat kemarau, kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan turut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat monyet liar itu datang ke permukiman dan lahan pertanian untuk mencari sumber makanan.
Fenomena tersebut terutama berpotensi terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Slamet, Sindoro, Sumbing, hingga Muria.
Di Kota Semarang, salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Gunungpati. Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, melaporkan kawanan monyet yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ungaran atau Goa Kreo masuk ke lahan pertanian hampir setiap hari.
Jumlahnya disebut mencapai sekitar 150 ekor. Tanaman pisang, mangga, pepaya, jambu, sirsak, hingga singkong menjadi sasaran kawanan tersebut.
“Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung,” keluh warga setempat.
Gangguan serupa sebelumnya terjadi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Kawanan monyet masuk ke area permukiman dan merusak sejumlah tanaman, seperti pisang, alpukat, nangka, rambutan, cabai, dan terong.
“Monyet-monyet itu merusak tanaman yang sudah berbuah. Yang paling banyak rusak alpukat dan nangka,” kata Ketua RT setempat.
Serangan dengan skala lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Sidomukti dan Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Koloni monyet disebut merusak sekitar 10 hektar lahan pertanian yang tersebar di tujuh dusun.
Berbagai tanaman menjadi sasaran, mulai dari daun bawang, tomat, buncis, cabai, bunga mawar, hingga alpukat. Petani mengaku kesulitan menghalau kawanan monyet karena jumlahnya mencapai ratusan ekor dan tidak mudah takut ketika diusir.
Ancaman serupa juga perlu diwaspadai di sejumlah daerah yang berada di sekitar kawasan pegunungan. Wilayah tersebut antara lain Magelang, Boyolali, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Wonogiri, hingga daerah perbatasan seperti Sragen.
Di Sragen, kawanan monyet bahkan dilaporkan sempat masuk ke kompleks RSUD Tangen pada awal April 2026. Pihak rumah sakit memastikan keberadaan satwa tersebut tidak mengganggu pasien meski lokasi rumah sakit berdekatan dengan kawasan hutan.
Pola turunnya monyet ke area pertanian cenderung berulang ketika musim kemarau. Ketika persediaan air dan makanan di habitat alami berkurang, satwa tersebut mencari sumber alternatif di lahan warga.
Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng, Puji Harini, mengatakan berkurangnya ketersediaan makanan dan air di habitat alami menjadi salah satu faktor yang mendorong monyet mendekati lahan pertanian dan permukiman.
“Mereka kerap turun jika sumber pakan berkurang. Bisa juga karena habitat aslinya sudah tidak nyaman,” ujarnya.
Tekanan terhadap lahan pertanian juga dipengaruhi tingginya populasi. Kondisi tersebut membuat kawanan monyet lebih mudah bergerak secara berkelompok untuk mencari sumber makanan baru.
DLHK Jawa Tengah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghadapi gangguan satwa liar tersebut. Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat embung kecil yang dapat menjadi sumber air sekaligus membantu menjaga ketersediaan pakan alami di sekitar habitat.
Petani di sejumlah wilayah mengaku berbagai cara telah dilakukan untuk menghalau kawanan monyet, mulai dari membuat suara gaduh, menggunakan senapan angin, hingga memasang jaring.
Namun, cara tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif karena monyet telah terbiasa dengan upaya pengusiran dan kembali datang secara berkelompok.
Di beberapa daerah yang terdampak cukup parah, kerugian petani disebut mencapai ratusan juta rupiah. Komoditas dengan nilai ekonomi tinggi, termasuk daun bawang dan berbagai jenis buah, menjadi salah satu tanaman yang mengalami kerusakan.
Jurnalis:*Red
Editor: Tia















