KAB.SEMARANG, Beritajateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang menyiapkan lahan khusus yang akan dibangun sebagai hunian sementara (huntara) hingga rusunawa bagi warga Desa Kalongan terdampak longsor.
“Kami Pemkab Semarang sudah menyiapkan rusunawa yang ada di Ungaran, yang saat ini sudah kami hitung jumlah rumah yang kosong di rusunawa itu,” ujar Bupati Ngesti Nugraha.
Ia menyebut saat ini jumlah rumah kosong di rusunawa kurang lebih sebanyak 54 unit. Puluhan rumah itu dapat dimanfaatkan warga apabila longsor meluas hingga ke permukiman dan membahayakan warga setempat.
Apabila rusunawa tersebut tidak cukup, Bupati Ngesti mengungkap Pemkab Semarang memiliki lahan yang juga berada di Desa Kalongan. Luas lahan tersebut mencapai 2,6 hektar dan dapat dijadikan sebagai huntara.
“Huntara itu solusi alternatif berikutnya, karena yang utama mohon doanya semoga longsoran itu tidak sampai melebar ke permukiman warga. Apabila sampai ke permukiman warga, langkah pertama warga dipindah dulu ke rusunawa, jika jumlahnya tidak mencukupi maka kami siapkan lahan untuk dibangun huntara,” tegasnya.
Mengenai sistem pembayaran, Ngesti menegaskan korban terdampak longsor dibebaskan dari biaya sewa apapun.
Diketahui, longsor di wilayah Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur ini telah berlangsung sejak 2022. Bencana ini dinilai membahayakan karena longsor semakin meluas mendekati permukiman warga setempat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menjelaskan peningkatan longsor mencapai 30-40 persen dari posisi awal.
Jangkauan longsor juga semakin meluas mencapai 1,5 kilometer dengan lebar sekitar 250-an meter dan tinggi longsoran mencapai 60 kilometer. Dengan kondisi tersebut, jarak longsor dengan permukiman warga saat ini hanya 15-20 meter.
Selain itu, ia mengungkap longsor juga menyebabkan ruas jalan alternatif Kabupaten Semarang-Kabupaten Demak terputus sejak lama.
Salah satu warga Desa Kalongan, Kalim, mengatakan mulanya longsor terhadi akibat hujan deras semalaman pada 2022 lalu.
“Waktu itu hujan sehari semalam, tiba-tiba jam 03.00 WIB dini hari longsor, jalan alternatifnya awalnya masih ada, masih bisa dilewati mobil waktu itu. Tapi tiba-tiba besoknya ambles tanahnya, jalannya itu hilang, lubang longsornya semakin melebar,” katanya, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menyebut hanya butuh waktu sekitar tiga hari, longsor di Desa Kalongan itu semakin parah. Hingga kini, longsor masih terus terjadi terutama saat hujan turun.
“Ini rumahnya tetangga saya namanya Pak Jumar itu paling dekat sekarang dengan lokasi longsor, jaraknya paling hanya sekitar 15 hingga 20 meter sekarang antara rumah dengan lokasi longsornya,” bebernya.
Longsor yang terjadi di Desa Kalongan itu juga berdampak pada hilangnya beberapa sumber mata air bersih untuk warga.
“Sejak longsor terjadi empat tahun lalu semua sumber mata air kami hilang, sumur saya yang dalamnya sampai 33 meter kebawah, sekarang hilang tidak ada airnya. Jadi dampaknya juga menyebabkan sumber mata air warga ini menipis,” ujarnya kembali.
Ia berharap akan ada solusi dan penanganan nyata dari pemerintah untuk mengatasi longsor di wilayah Desa Kalongan itu.
“Kami berharap ada solusi nyata dari pemerintah untuk mengatasi longsor ini, karena selama ini warga hanya diminta menanam pohon saja, tapi kan ternyata tidak membuat dampak berarti,” ungkap Kalim.
Sementara itu,Camat Ungaran Timur, Wahyu Widayat, mengatakan pihaknya telah menutup lokasi longsoran dengan memasang pita pembatas. Hal itu dilakukan agar tidak ada warga yang mendekati lokasi berbahaya tersebut.
“Ini juga tentunya peringatan bagi siapapun yang hendak mendekat di lokasi longsor untuk berhati-hati dan sebaiknya menjauh, supaya tidak ada kejadian yang tidak kita inginkan,” harapnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















