SEMARANG, Beritajateng.id – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menerjemahkan kemerdekaan sebagai sarana untuk memperkuat upaya-upaya kesejahteraan bagi masyarakat. Usai upacara di halaman Balai Kota Semarang, Senin, 17 Agustus 2026, ia menegaskan tiga hal yang harus menjadi fokus dalam mengisi kemerdekaan, yakni kemakmuran, keselamatan, dan ketenteraman.
“Kita berharap bahwa dalam mengisi kemerdekaan kita lebih fokus pada upaya untuk menyelesaikan tiga hal, yaitu menuju masyarakat yang sejahtera, kemudian yang kedua adalah selamat, yang ketiga tenteram,” katanya.
Agustina menuturkan persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan pemerintah sendirian. Ia menempatkan gotong royong sebagai kunci, sekaligus mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak akan lahir jika seluruh beban hanya diletakkan di pundak pemerintah.
“Tiga hal itu bisa kita capai kalau bersama-sama. Kalau ada gotong royong. Kalau tidak ada gotong royong akan sulit,” tegasnya.
Agustina kemudian mempersempit makna kemakmuran pada kebutuhan paling mendasar masyarakat, yaitu sandang, pangan, dan papan. Namun, ia juga menyoroti aspek yang kerap luput dari perhatian, yakni perlindungan bagi pekerja rentan.
Ia mencontohkan keterlibatan ASN yang ikut membayar jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja yang belum mampu mendapatkan perlindungan secara mandiri.
“Tadi kita lihat ada contoh teman-teman ASN peduli, ikut berkontribusi membayar pekerja rentan yang tidak mampu di-cover oleh pemerintah atau yang bersangkutan tidak bisa bayar sendiri,” ujarnya.
Menurut Agustina, gotong royong semacam itu menunjukkan bahwa perlindungan sosial tidak semata-mata menjadi urusan negara. Ketika pekerja rentan meninggal dunia, manfaat jaminan sosial bahkan dapat berlanjut kepada keluarganya.
“Tidak hanya berupa tunai, tetapi juga ada beasiswa bagi anaknya,” katanya.
Agustina juga memberikan penekanan khusus pada persoalan ketenteraman. Bagi dia, keamanan dan stabilitas bukan sekadar urusan aparat, melainkan fondasi penting bagi kehidupan sosial sekaligus ekonomi Kota Semarang.
“Ketenteraman ini menyangkut semua orang. Ketenteraman ini tidak bisa dilakukan sendiri, hanya oleh sebagian masyarakat,” tegasnya.
Ia menolak anggapan bahwa menjaga ketenteraman cukup diserahkan kepada pemerintah atau kepolisian.
“Tidak bisa hanya pemerintah sendiri atau polisi sendiri atau mungkin anak-anak sekolah sendiri, anak-anak muda sendiri, orang tua sendiri. Enggak bisa. Ini harus bareng-bareng,” lanjutnya.
Penekanan itu menjadi penting karena Semarang merupakan kota perdagangan dan jasa. Kondisi kota yang tidak kondusif menurutnya berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan mengurangi kepercayaan pelaku usaha.
“Ketenteraman penting bagi Kota Semarang karena kita ini ibu kota perdagangan dan jasa. Kota yang membutuhkan kondusivitas, kota yang membutuhkan stabilitas,” kata Agustina.
Ia menegaskan Semarang harus mampu menciptakan iklim yang aman dan nyaman bagi masyarakat maupun dunia usaha.
“Kota yang harus memberi kehangatan bagi para pelaku dari luar ataupun dunia usaha yang mengembangkan kegiatannya di Kota Semarang,” ujarnya.
Menurutnya kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pengibaran bendera dan seremoni tahunan. Ukuran keberhasilannya adalah ketika masyarakat semakin makmur, terlindungi, dan hidup dalam kota yang tenteram.
“Mudah-mudahan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ini menambah semangat kita untuk menuju pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya
Lebih jauh, Agustina juga memberi perhatian pada kesenian tradisional yang tampil dalam rangkaian peringatan kemerdekaan.
“Tari dug dug der bagus, Ini akan kita biasakan supaya menjadi tarian masyarakat Kota Semarang,” ujarnya.
Bagi Agustina, kesenian tradisional tidak cukup hanya ditampilkan sebagai hiburan dalam acara pemerintah.
“Gerakannya membutuhkan konsentrasi,” katanya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















