KUDUS, Beritajateng.id – Serbuan lalat di wilayah Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, yang diduga berasal dari kandang ayam turut berdampak pada siswa dan guru di SD Negeri 3 Bulungcangkring. Para siswa terpaksa menyantap makan bergizi gratis (MBG) di tengah serbuan serangga itu.
“Pada saat makan MBG ini bener-benernya lalatnya berkumpul. Jadi anak makan itu dikerubungi lalat,” ungkap salah satu guru, Tony, Jumat, 2 Oktober 2026.
Meski begitu, terkait dengan MBG, Tony menegaskan tidak ada keluhan apapun. Namun, hanya saja menurutnya akibat fenomena serangan ribuan lalat tersebut proses memakan MBG bagi para siswa menjadi tidak nyaman.
“Untuk keluhan mungkin sebenarnya ini bukan karena MBG-nya, ya. Tapi karena situasi lalatnya, ketika mau makan tapi diganggu (lalat) jadi agak risih,” kata dia.
Tony, mengungkap serangan lalat tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Namun, fenomena ini semakin meningkat sejak September dan mulai mengganggu aktivitas belajar mengajar di SD.
“Sebenarnya sudah lama, tapi kami diam. Tapi ini sudah sangat keterlaluan dari bulan ini saja, kenaikkannya itu dari tgl 15-26 kemarin itu membuat belajar mengajar terganggu,” ujarnya.
Ia menegaskan pihak sekolah telah memasang lem lalat untuk mengurangi gangguan. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup. Ribuan lalat itu bahkan tidak hanya mengganggu siswa saat belajar, tetapi juga menyerbu ruang guru.
“Kami sebagai pendidik sangat prihatin terhadap kondisi anak, kami pengajar juga terganggu, duduk saja dikerubungi lalat,” kata Tony.
Adapun jarak dari kandang ayam yang diduga sebagai asal muasal ribuan lalat menyerang diperkirakan hanya berjarak sekitar 200 meter dari SDN 3 Bulungcangkring.
“Dari kandang itu sekitar 200-an meter,” kata Tony.
Rekomendasi Penutupan Kandang
Sementara itu, Wakil Bupati Kudus Belinda Birton, menuturkan telah mendapat keluhan mengenai banyaknya lalat. Keluhan itu tidak hanya datang dari warga, tetapi juga siswa yang bersekolah di sekitar kawasan peternakan.
“Jadi kemarin ada keluhan masyarakat, termasuk adik-adik kita yang bersekolah di lingkungan sekitar kandang. Terkait adanya banyaknya lalat yang tidak normal, lalatnya banyak banget,” kata Belinda.
Menurut Belinda, terdapat sekitar 21 kandang ayam di wilayah Bulungcangkring. Persoalan tersebut sebenarnya telah beberapa kali dibahas melalui mediasi yang melibatkan pemerintah desa, kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), masyarakat, hingga pengelola kandang.
Namun, penyelesaian sebelumnya dinilai belum mampu mengendalikan persoalan secara tuntas. Pemkab pun turun langsung untuk mencari langkah penanganan yang lebih terukur.
Belinda meminta Pemerintah Desa Bulung Cangkring segera membentuk Tim Bina Lingkungan. Tim tersebut nantinya melibatkan unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pemilik kandang. Sementara pemerintah kecamatan dan dinas terkait akan melakukan pemantauan serta pengawasan.
“Tim Bina Lingkungan itu ada perwakilan dari desa, tokoh masyarakat, sama pemilik kandang. Tetap nanti dari kecamatan dan dinas terkait juga memonitor dan mengawasi,” jelasnya.
Pembentukan tim diberi tenggat maksimal satu minggu. Setelah terbentuk, penyemprotan di masing-masing kandang dan lingkungan sekitar ditargetkan mulai dilakukan pada pekan berikutnya.
“Harapan saya lalat ini bisa berkurang. Program ini bisa efektif. Nanti kalau memang belum efektif, kita bikin langkah lain lagi,” bebernya.
Pemkab Kudus juga membuka kemungkinan mengambil langkah lebih tegas apabila pembinaan dan pengawasan tidak mampu menyelesaikan persoalan. Belinda menegaskan aspirasi masyarakat terkait penutupan kandang juga akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah.
“Kalau memang masyarakat minta untuk ditutup, ya kita tutup. Kita rekomendasikan untuk ditutup,” tegasnya.
Pengelola Kandang Lakukan Penyemprotan Rutin
Sementara itu, perwakilan pengelola kandang dari PT Anthony Jaya Perkasa (AJP), Heri Hermawan, mengaku memahami keluhan warga terkait meningkatnya populasi lalat.
Ia mengatakan pengelola kandang telah menjalankan sejumlah langkah sanitasi dan biosekuriti. Penyemprotan dilakukan secara rutin pada pagi dan sore hari.
“Antisipasi kita tetap biosekuriti. Di farm kita sebenarnya sudah berjalan, pagi dan sore kita semprot. Untuk sanitasi lingkungan juga sudah berjalan,” kata Heri.
Menurut Heri, pengelola juga telah membantu penyemprotan di lingkungan warga dan sekolah. Selain itu, lem lalat dibagikan sebagai salah satu upaya pengendalian.
Heri menjelaskan, peningkatan jumlah lalat salah satunya dapat terjadi ketika memasuki masa panen ayam. Siklus panen yang tidak berlangsung serentak membuat aktivitas pengelolaan kotoran berlangsung bergantian dari satu kandang ke kandang lainnya.
“Kalau musim panen pasti banyak, karena siklus panen ayam kita di sini tidak bisa bareng, tidak bisa serentak. Jadi bisa berpindah-pindah dari ujung sampai ujung,” terangnya.
Satu siklus pemeliharaan ayam broiler berlangsung sekitar satu setengah bulan hingga memasuki masa panen. Pada saat panen dan pengerukan kotoran, kondisi tersebut dapat memicu munculnya lalat.
Selain aktivitas peternakan, Heri menyebut faktor lingkungan dan perubahan musim juga dapat memengaruhi perkembangan lalat.
“Kalau menghilangkan saya rasa di dunia peternakan susah. Kalau sampai steril saya rasa tetap ada lalat. Mungkin harapannya lebih kepada mengurangi,” tandasnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman/Lingkar Network
Editor: Utia Lil















