PATI, Beritajateng.id – Petani bawang merah di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, terpaksa memanen tanaman mereka lebih awal di usia 45-50 hari. Hal ini karena lahan pertanian itu terendam banjir setinggi 1,5 meter sejak Jumat, 9 Januari 2026.
Panen lebih awal itu dilakukan dengan pertimbangan agar bawang merah tidak membusuk. Para petani pun harus merelakan hasil panen dari 15 hektar lahan terjual dengan harga seadanya.
Perwakilan Kelompok Tani Gangsar Tani, Warsito mengatakan, bawang merah tersebut seharusnya dipanen sekitar dua sampai tujuh hari lagi. Namun, karena banjir yang menerjang lahan maka panen lebih awal terpaksa dilakukan agar bawang merah tidak membusuk.
“Ini upaya kami untuk menyelamatkan tanaman bawang merah yang terendam banjir, Mas. Kita panen lebih awal supaya petani masih bisa mendapatkan hasil penjualan meskipun sedikit, karena kalau dibiarkan terlalu lama di bawah air, bawangnya pasti busuk,” katanya, Selasa, 13 Januari 2026.
Melihat kondisi itu, pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan bantuan dengan mempermudah pembibitan dan penambahan modal.
“Memang biaya operasional jadi bertambah karena kondisi sulit seperti ini. Kami sangat berharap pemerintah bisa membantu kami, terutama untuk kemudahan mendapatkan bibit kembali dan tambahan modal untuk musim tanam berikutnya,” harap Warsito.
Sementara itu, petani lainnya, Sutiono mengungkap memanen bawang merah dalam kondisi tergenang air banjir menyulitkan proses panen. Ketinggian air yang cukup dalam, medan yang licin dan berlumpur serta hujan yang belum berhenti menjadi tantangan tersendiri.
“Airnya cukup dalam sampai satu setengah meter, jadi kita harus menyelam sedikit untuk ambil bawangnya. Medannya juga licin sekali dan berlumpur, ditambah hujan yang tidak berhenti-berhenti jadi tantangan berat buat kami,” ungkapnya.
Jurnalis: *Red
Editor: Tia















